Jumat, 10 Oktober 2014

Bulan


            Dua tiga kalong asyik mahsyuk bercengkerama di atas pohon kenari. Malam begitu tua dan para penghuni kampung kecil ini sedang mati berselimut mimpi indah, sebagian mungkin tak bermimpi, hanya butuh merasa mati sejenak dari hidup yang kadang membosankan. Ia perhatikan siluet dirinya, siluet biru yang indah.  Rambut hitamnya ia biarkan berseliweran diantara dada berisinya. Wajahnya begitu luas dan matanya sebiru sapphire. Ia sepertinya berumur dua puluhan menginjak tiga puluh. Bentuk tubuhnya sintal dengan pinggul lebar. Tak ada seorangpun yang tau pasti dari mana wanita itu berasal, dia ada disini begitu saja. Kasak – kusuk yang berkembang bahwa ia berasal dari Jakarta. Jakarta yang orang – orang kampung ini pun kebanyakan tak tahu letaknya ada dimanakah itu ataukah itu merupakan sebuah kampung lain seperti kampung mereka. Entahlah, mereka masing – masing hanya bisa berspekulasi. Sampai saat inipun, sebenarnya tak ada yang mempersoalkan darimana wanita itu berasal. Yang para pemuda kampung tahu, ada wanita  cantik tuk sekedar mencuci mata setiap kali ia lewat, walau nyatanya lebih banyak mengundang libido di otak. Sedang para wanita senang diajari berdandan walau itu sebatas meratakan bedak dari bebatuan kali yang mereka haluskan ataupun menguncir rambut dengan berbagai model. Lain lagi bagi anak – anak kampung, wanita itu layak sang dewi yang diturunkan leluhur yang biasa mereka sembah bersama para orang tua. Ia mengajarkan mereka baca tulis dengan penuh kasih sayang. Kampung ini tak memiliki sekolah. Tua, muda, semuanya buta huruf.
Wanita itu awalnya menawarkan diri untuk mengajarkan anak – anak baca tulis, sebagai imbalannya ia mohon diperbolehkan tinggal di kampung. Kepala kampung kemudian mengamini keinginan wanita itu dengan melewati proses perundingan panjang dan tentu saja melaksanakan serangkaian ritual meminta persetujuan leluhur. Ia diperkenankan untuk tinggal bersama seorang janda tak beranak. Janda itu yang kemudian menyayanginya seperti anak sendiri. Dikarenakan kampung ini tak memiliki gedung sekolah, maka tempat anak – anak itu belajar berpindah – pindah. Suka – sukanya si wanita ataupun anak – anak kemana mereka harus “sekolah” hari itu. Kadang mereka belajar di bukit, lembah ataupun air terjun. Belakangan warga kampung kemudian bahu membahu membuat sebuah rumah pohon untuk mereka. Anak – anak senang sekali, mereka memenuhi dinding – dinding itu dengan bermacam gambar hasil goresan spidol warna – warni. Spidol itu kadang mereka dapatkan dari para pecinta alam yang hendak mendaki dan berbaik hati membawakan barang - barang tuk anak – anak kampung itu.
Malam ini begitu dingin, sedingin hati wanita itu. Ia menatap bulan penuh diatas kepalanya.  Ia menarik nafas berat dan dalam. Ada sesuatu yang mengganggu dalam pikirnya. Sepertinya bukan masalah percintaan, pasalnya delapan sepuluh pemuda pernah datang mempersuntingnya sebagai isteri. Hanya saja mungkin wanita itu terlalu pintar untuk mendapati bahwa mereka hanya menginginkan tubuhnya yang panas. Sebenarnya ia mungkin tak keberatan untuk menikah dan beranak pinak disini, toh ia telah memutuskan untuk menetap dan beradapatasi menjadi manusia kampungan, jauh dari peradaban yang menyakitkan kesini, setidaknya dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Mungkin saja selamanya. Namun, ia benar – benar tak suka dengan konsep patriarkal yang mendaging dalam masyarakat kampung seperti ini. Ia wanita bebas. Ia tak ingin dikekang tradisi sosial patriarkal yang mengharuskan wanita tunduk pada pria. Ia hanya ingin sendiri, menghabiskan waktunya untuk mengajari anak – anak agar bisa baca tulis. Lebih dari semuanya, hal yang membuatnya ada disini dalam dimensi ini adalah hal utama yang membuatnya memutuskan untuk tidak menerima lelaki – lelaki tersebut.
“Ohh.. kau belum tidur?” Tanya seorang wanita berumur senja membuyarkan lamunannya.
“Belum mak”. Jawab wanita itu singkat saja sambil tersenyum lebar.
“Apa yang sedang difikirkan? Ceritakanlah pada makmu ini” Desak si mak.
“Eh mak.. Tidak ada mak, ayo kita tidur, sudah hampir pagi ini”. Ajaknya memutus pembicaraan. Janda tua itu mengangguk saja. Mak tahu ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu. Ia keliatan murung beberapa hari terakhir sejak kunjungan seorang dokter ke kampung. Wanita renta itu berfikir mungkin, anak angkatnya itu telah jatuh cinta dengan sang dokter.
Dokter itu benar – benar seperti malaikat bagi warga kampung. Dokter Ikhsan namanya. Dia adalah satu – satunya dokter yang selalu datang menyembuhkan segala macam sakit yang dikeluhkan warga kampung. Cacingan, kembung, panuan, sakit gigi dan bermacam penyakit lainnya disembuhkan. Dokter Ikhsan menempuh bermil – mil jauhnya dan harus menumpang speed boat ke dalam hutan, kemudian harus mendaki lagi untuk mencapai kampung ini. Tapi selaiyak malaikat yang selalu menurut pada Sang Tuan, ia melakukannya tanpa komplain. Zaman tua seperti ini, memang sangat sulit mendapati seseorang seperti dokter ini. Wajah luasnya selalu berseri – seri jika tiba di kampung, tak ada raut kelelahan barang setetes keringatpun. Ia selalu datang dengan memikul tas besar persis seperti yang dibawa para pecinta alam yang kadang datang bertandang. Dokter Ikhsan selalu menginap satu dua malam. Dia akan menggelar doom-nya diseputaran pemukiman warga. Kontras warna merah hitamnya akan dikenali diantara reok gubuk warga. Anak – anak sangat menyukainya. Mereka menyukainya jauh sebelum wanita misterius itu datang kepada mereka. Dan mereka masih menyukainya sampai sekarang. Bola baru adalah yang paling ditunggu anak – anak disini. Ia akan menghabiskan waktu dengan bermain bola dengan anak – anak sampai kabut senja turun menggerayapi kampung. Dokter Ikhsan akan baru datang tujuh bulan sekali karena harus bekerja di rumah sakit besar katanya. Tak pelak anak – anak sangat mengelu – elukan kedatangannya walau sedikit banyak takut akan jarum suntiknya.
“Hei, boleh kubantu?” Tanya sang dokter pada sang wanita di suatu pagi yang cerah. Wanita itu sedang memperbaiki tangga kayu rumah pohon ketika lelaki itu tak sengaja lewat.
“Ohh.. hai, terima kasih, tapi tak usah.. aku masih bisa sendiri kok”, jawab wanita itu sopan. Wajahnya yang bersimbah peluh tak sedikitpun melunturkan kecantikan alaminya.
“Hmmm.. Sepertinya kau orang baru disini” , tukas dokter Ikhsan sambil menempatkan posisinya duduk disamping belukar tipis.
“Aku dari Jakarta. Aku dengar dari anak – anak, kamu dari Makassar. Mengapa kamu mau datang ke kampung terpencil ini?” tanya wanita itu masih dengan cekatan menancapkan paku pada batang pohon.
“Woooo, kesasar jauh sekali. Hmmm… pertanyaanmu tak perlu kujawab kan? Mungkin alasannya sama dengan alasan kamu sampai berada disini.”
“Aku ragu kalau perspektif kita sama dalam hal ini.” Wanita itu kini telah selesai dengan proyek kecilnya dan menenggak minuman dari botol airnya.
Lelaki itu mengamini saja.
“Oiyahh,, mengapa tadi aku tak melihatmu saat pemeriksaan kesehatan?”
“Aku baik – baik saja, aku tak perlu pemeriksaan seperti itu.”
“Wahh.. Sombong sekali. Oke misalkan kamu baik – baik saja, tidak ada kemunkinankah bahwa kau akan sakit? Tindakan pencegahan namanya.”
“Oke bapak dokter yang baik hati dan tidak sombong. Kalau sudah selesai sosialisasi kilatnya, boleh aku pergi sekarang?”. Wanita itu tak perlu jawaban dan berlalu dengan indahnya. Sang dokter memperhatikan lekuk tubuh wanita itu. Bentuk pinggulnya sempurna untuk melahirkan titisan sempurna. Rambutnya diikat sekenanya hingga meninggalkan bulu – bulu halus di leher jenjangnya. Sebagai lelaki, tak munafik dia terangsang namun cepat ditepisnya. Ia sampai tak sadar belum berkenalan dan menanyakan nama wanita manis itu.
                            
                                ************************************
            Namanya Bulan. Begitu keterangan si emak. Bahkan si emak pun tak tahu siapa nama asli wanita itu. dia datang enam bulan yang lalu ke tempat ini begitu saja tanpa identitas, seakan dia benar – benar ingin menenggelamkan cerita lalu hidup. Wajahnya yang teduh, indah dan jauh tak terjangkau selaiyak bulan penuh yang membuat kepala kampung menasbihkan nama itu padanya. Dokter Ikhsan kali ini benar – benar setuju dengan kepala kampung soal penasbihan itu. Dia bahkan ingin menambahkan nama belakangnya menjadi bulan purnama, setidaknya untuk dirinya sendiri. Dokter Ikhsan mendesak emak bercerita lebih banyak lagi, tapi wanita tua itu benar – benar tak tahu apa – apa tentang Bulan. Ia hanya tahu Bulan berasal dari Jakarta, suatu tempat yang tak ditahuinya. Sehari – harinya pun Bulan hanya berceloteh seputar anak – anak. Bersama anak – anak seakan menjadi pengganti dunia lalu. Pernah sesekali emak mendapati Bulan terisak dalam diam. Hanya seperti biasa, Bulan tak ingin berbagi apapun dengannya dan dia tetap menghargai keputusan wanita yang sudah dianggapnya anak tersebut.
            Dokter Ikhsan benar – benar penasaran dengan Bulan. Siapa dia sebenarnya. Siapa nama aslinya. Sudah menikahkah dia di kehidupan sebelumnya.
            “Bulan. Hei Bulan.” Dokter Ikhsan tergesa – gesa mengikuti langkah Bulan ketika wanita itu hendak ke rumah pohon. Yang dipanggil menghentikan langkah seraya menebar senyum. Etika sosial. Gigi ginsulnya terlihat & tak ketinggalan lesung pipinya yang bergelantungan manja walau pipinya agak pucat hari ini. Jika value tertinggi kesempurnaan itu ada pada nilai seratus, maka dokter Ikhsan menghadiahi wanita itu dua ratus. Menurutnya, wanita berlesung pipi adalah wanita yang lebih menarik dari wanita yang tak memilikinya.
            “Ada apa dokter? Ada yang bisa kubantu?” tanyanya.
            “Hmmmm… ginii, aku akan ke desa sebelah. Jaraknya sekitar 2 mil dari kampung ini. Saya fikir kamu akan tertarik ikut dengan saya, disana ada banyak anak – anak yang mungkin ingin belajar baca tulis. Gimana menurutmu?” lelaki itu bertanya sembari berdoa dalam hati semoga diaminkan Sang Tuan.
            “Hmmm.. Maaf pak dokter tapi saya tidak bisa meninggalkan anak – anak disini”. Terang Bulan.
            “Kita tak lama kok. Hanya butuh tiga sampai empat hari. Aku akan melakukan pemeriksaan rutin dan kamu bisa mengajar anak – anak disana, setelah itu kita kembali lagi kesini”.
            “Aku benar – benar minta maaf, dokter. Aku tak berminat. Maaf harus pergi, anak – anak sedang menunggu.
            “Aku tidak berbuat salah padamu kan? Sepertinya kamu membenci saya.”
            “Itu perasaan pak dokter saja. Permisi.”
            Bulan kemudian berlalu menyusuri lorong kecil, meninggalkan dokter Ikhsan yang agak kecewa ditolak permintaannya. Dalam hati dokter Ikhsan masih tak bisa menampik rasa keingintahuannya terhadap wanita itu. Wanita yang sepertinya tak menganggapnya sebagai pria dewasa. Terang saja, dengan wajah tampan yang dimilikinya dan kemapanannya, tak ada track record pria tersebut ditolak oleh para wanita. Bahkan, para wanita mengantre untuk bisa naik ke mobilnya.
            Lesbikah wanita ini? Pria itu membatin.

                                         ***********************************
       “Dokteeerrr…. Dokteeerrr Ikhsaaannn… Dokteeeerrr”, dua bocah sekitaran 7 tahun berteriak dan berlari menuju tenda dokter Ikhsan. Ia yang tengah sibuk mengemasi segala keperluan untuk pergi ke kampung sebelah bersegera keluar menangkap sesuatu yang tidak beres.
            “Ada apa, Harun.. Cemeni, heh?” tanyanya kepada kedua anak tadi.
            “Kakak Bulan,.. kakak Bulan dokter,” Ucap harun terpatah – patah masih mengatur napasnya.
            “Bulan kenapa?” dokter Ikhsan mulai khawatir.
            “Kakak Bulan sakit dokter.” Cemeni menjelaskan singkat sambil menarik tangan dokter Ikhsan agar cepat – cepat ke rumah pohon. Dokter Ikhsan cepat meraih peralatan medis yang memang telah terkemasi dalam sebuah backpack merah miliknya.
            Tidak butuh waktu lama untuk kedua bocah dan dokter Ikhsan sampai ke tempat tersebut. Bulan sedang tergeletak menggigil di dalam rumah pohon. Wajah cantiknya terlihat lebih pucat dari terakhir mereka bertemu tadi. Dokter Ikhsan kemudian memeriksa detak nadinya. Ia membuka mulut Bulan, memeriksanya dan melakukan beberapa lagi pemeriksaan terhadap kondisi Bulan. Wajahnya agak berkerut. Ia menyimpulkan tapi agak sedikit berspekulasi. Bulan masih menggigil kedinginan. Tubuhnya sedingin mayat.
            “Kakak, tidak apa – apa pak dokter?” celetuk seorang bocah diantara kawanan itu.
            “Tidak apa – apa. Kakak Bulan hanya demam. Setelah dokter kasih obat pasti sudah sembuh kok.” Dokter Ikhsan tersenyum agar bocah – bocah itu bisa berhenti khawatir. Beberapa dari bocah perempuan bahkan sudah menangis. Ia kemudian membubarkan kawanan dan menyuruh mereka pulang.
            “Aku baik – baik saja. Terima kasih. Kamu bisa pergi, dokter.” Suara itu begitu pelan dan bergetar, seakan dengan susah payah ia membuka kerongkongannya. Dokter Ikhsan tak bergeming dari tempatnya.
            “Aku akan mencari makanan untukmu dan merawatmu sementara”, ucap dokter Ikhsan tanpa butuh jawaban persetujuan.Kejadian itu membatalkan perjalanan dokter Ikshan ke kampung sebelah.
Sudah beberapa hari namun demam Bulan belum juga mengindikasikan akan sembuh benar. Ia sudah mendingan, namun akan kembali sakit lagi.
            “Sudah biasa pak dokter.” Ucap Bulan di suatu sore yang indah. Ia menyebar senyum terindahnya pada dokter Ikhsan sedang menyeduh teh hangat untuk mereka berdua.
            “Aku berspekulasi ini lebih dari demam biasa, hanya saja aku takut aku salah karena harus dilakukan beberapa lab test untuk memastikan gejala ini, itupun kalau kamu bersedia diambil darahmu,” dokter Ikhsan menjelaskan pendek sambil memberi secangkir teh pada Bulan. Dibawah rumah pohon ada beberapa bocah bermain petak umpet. Mereka bermain bebas, tertawa lepas dan tanpa beban. Mereka tak tahu dan tak mau tahu jika di hari esok harus berjuang sendiri. Toh mereka adalah pejuang – pejuang tangguh yang ditempa alam. Di ranting pepohonan, terdengar cericitan anak kenari kecil mungil dan menggemaskan.
            Angin menghembus pelan dan menyingkap rambut Bulan yang hitam sehitam langit malam. Ia  menghirup dalam aroma khas pegunungan ini. Ia selaiyak malaikat yang lelah megemban tugas Sang Tuan. Ia menutup lama matanya. Dokter Ikhsan bisa menangkap setitik tanda lahir kecil diujung mata Bulan. Perfect.
            “Aku suka aroma tanah, aku suka aroma pucuk hijau, akupun begitu suka aroma kopi yang dijemur. Aku cinta tempat ini. Tempat yang tepat untuk beristirahat.” Dia meneguk tehnya sekali dua. Sepertinya pernyataan dokter Ikhsan tak ingin ditanggapinya.
            “Kamu tahu, dok? Beberapa bulan lalu ada seorang wanita datang ke tempat ini. Namanya Rinjani Karuan. Dia seorang pelacur. Dia biasa melacurkan diri kepada para pejabat kelas menengah. Tarif permalamnya bisa mencapai 8 jutaan, jadi dia selalu menargetkan kalangan itu. Cukuplah untuk memuaskan diri sendiri.” Satu tarikan lagi dari cangkir ditangannya. Dokter Ikshan tetap abstain menyimak cerita Bulan. Bulan melanjutkan.
            “Ia sebenarnya tak ingin jadi pelacur, hanya saja orang tuanya meninggal waktu ia masih kecil. Dikarenakan ayahnya mualaf mengikuti ibunya yang Islam maka tak ada yang mau merawatnya lagi. Kehidupan yang keras menciptanya menjadi seperti itu,” Bulan tersenyum getir.
            “Kau berteman dengannya?” tanya dokter Ikhsan.
            “Dia lebih dari teman bagiku. Ia selalu pergi kemanapun aku pergi. Rinjani bilang padaku ia ingin menjadi seorang yang berguna. Mungkin ingin menjadi guru selepas vonis HIV/AIDS melekat didahinya. Aneh juga pikirku, jika seorang pelacur banting setir menjadi seorang guru. Apa yang akan terjadi pada murid-murid pelacur? Hehehe.” Bulan tertawa kecil namun keras.
            “Ahhh.. kehidupan memang keras. Tapi dimana wanita itu sekarang?” tanya dokter Ikhsan penasaran.
            “Wanita itu sudah mati sekarang, dokter. Bahkan arwah pelacur itu tak pernah gentayangan. Aku yang menguburnya dengan tanganku sendiri,” dia mengambil jeda dan kemudian beranjak.  Ditaruhnya cangkir teh tadi pada meja kecil yang tergeletak pada pojok ruang. Seperti tersihir, dokter Ikhsan hanya abstain.
“Oiyah dokter. Terima kasih atas perhatiannya, tidak usah repot - repot mengambil sampel darahku. Wanita itu memang sudah terkubur.... tapi dia meninggalkan warisan yang takkan bisa dikubur bersamanya. Penyakit ini.”
Bulan berbalik dan tersenyum misterius penuh makna. Ia berlalu dengan indah meninggalkan dokter Ikhsan yang penuh dengan seribu tanya dalam kepala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar