Senin, 11 Februari 2013

Tobelo dan Aku

            “Tobeloooo.. Tobeloooo.. mo ke Tobelo adik? Ayo di speed boat kami. Langsung berangkat.”           Ajak seorang pria muda yang sepertinya umurnnya lebih muda dariku. Aku menolak dengan sopan ajakannya yang berkali – kali itu. Kukatakan padanya aku sedang menunggu temanku. Aku berjalan menuju ruang tunggu sederhana yang atapnya terbuat dari rumbia di pelabuhan itu. Backpack yang sedari tadi kupikul kuletakkan dan kusandarkan pada bangku kayu panjang. Kulirik jam di hape. Waktu menunjukkan pukul 05.15 pagi. Waktu yang disetujui aku dan temanku untuk berkumpul di pelabuhan ini. Nama temanku itu Zia. Kita akan menyambangi kampungnya, Popilo namanya. Sebenarnya aku tidak berniat ikut karena kantongku benar – benar sobek alias kere, tapi si Zia insist karena dia ingin aku membantunya untuk melakukan peneletiannya itu. Dia akan menanggung seluruh ongkos kita. Kampungnya terletak di pulau Halmahera sana, kebetulan sekali aku belum pernah mengunjungi pulau yang dijuluki gajah tidur itu. Sebagai pecinta tualang, aku bersemangat. Menyadari semua itu gratis, aku makin bersemanngat. (jiaaahhh… :p).
            Kubuang pandang jauh kearah timur kaki langit. Semburat – semburat halus cahaya pink menyebar indah bersinergi dengan biru muda langit seakan ingin membentuk lukisan abstrak. Mentari akan menyapa bumi biru lagi, di tempatku, dia akan mucul dengan megah dari balik pulau yang akan kukunjungi itu. Subhanallah. Kutarik nafas panjang, kulantunkan terima kasih pada Sang Tuan untuk kasihNya yang Maha.
            “Kopi dik??,” tawar seorang pria tua mengagetkanku sambil mengambil posisi tepat disebelahku.
            “Ooh makasih pak. Tapi mungkin aku gak lama,” jawabku menimpali.
            “Hmmm.. lagi nunggu teman?? mau ke Tobelo atau??” tanyanya beruntun,
            “Iyah pak, nunggu teman. Mau ke Tobelo, Popilo.” Jelasku lengkap.
            “Dukkono lagi polote tuh.
            Polote ??
            “Adik bukan orang Ternate ya?.” Dia tersenyum mempertontonkan gigi ompongnya.
            Aku menggeleng.
            Polote itu meletus. Jadi gunung Dukkono yang ada di seputaran Galela Tobelo itu sedang mengeluarkan material abu vulkanik sekarang. Hati – hati kesana.”  Terangnya.
            Aku ciut. Namun, demi pengabdian terhadap kampus dan masyarakat, kita harus melakukan misi penelitian ini sampai selesai. (pandangku kearah kamera sambil melotot,..halllaaahh.. hahaha). Aku tersenyum sendiri dan pak tua itu bingung jadinya. Mungkin dipikirnya otakku agak miring karena ekspresi yang diharapkan berbanding terbalik. Aku senang mendengar aksen “Dukkono” itu. Ada pressing pada huruf “k”, hingga terdengar seperti bahasa Jepang. Overall, aku sudah cek status gunung itu, belum terlalu membahayakan.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 05.45 pagi. Zia belum memunculkan batang jidatnya. Pesan – pesanku dan teleponku pun tak diangkat. Aku merasa tanduk tersembunyiku mulai tumbuh merobek jilbabku, dan dengusanku pun menyembulkan asap panas. Jika saja teleponku diangkat sekarang, aku akan menatarnya sampai habis. Sumpah demi apa saja aku bukan tipe manusia penyabar jika berhubungan dengan tunggu menunggu ini. Aku bela – belain bangun jam setengah 4 pagi untuk mengerjakan semua tugas yang biasanya kukerjakan selesai sholat subuh, PLUS memerkosa eucalyptus-ku. Dan kini, aku disini menghabiskan hampir satu jam menunggu dengan mata yang hampir melompat keluar. Sejurus kemudian myself nya LP mengalun keras dari hapeku. Ada sms.
Assalam.. Sist maaf aku kesiangan, ni dah OTW kesitu.
Pesan singkat dari Zia. Aku balas singkat juga.
Besok aja baru kesini. Gak konsisten.
Dia tahu aku marah makanya dia melancarkan permohonan maaf yang berulang kali. Aku terlanjur ill feel. Kalo saja dia bukan temanku. KALAU SAJA.
Aku harus menunggu setengah jam lagi, karena jarak tempuh dari kosannya ke pelabuhan ini lumayan jauh. Kuputuskan memesan kopi. Pak tua itu hanya tersenyum melihat wajahku yang memerah. Mentari makin meninggi, jantung pelabuhan inipun berdetak makin kencang. Manusia mulai banyak yang lalu lalang. Nasi Jaha atau nasi bamboo temani pagiku dan pak tua ini. Perlahan emosiku agak mereda demi mendengar pak tua mengisahkan beberapa legenda negeri Sultan. I am impressed. Kami tenggelam dalam sejarah. Aku pun tak kalah sotoy untuk mengaitkan sejarah kesultanan dengan tempat aku dibesarkan di Ambon sana. Ternyata beliau berkata memang berkaitan erat.
Seorang gadis tersenyum dari jauh dibalik punggung cowok diatas Shogun merahnya. Zia. Aku kembalikan senyumannya. Mau bagaimana lagi. TEMAN.
“Na, sorry…….”
“Ahaa,, gak usah dibahas. Yuuk.”
Aku tak suka basa basi jika ada yang mengecewakan. Diamkan saja aku. Dia berpamitan pada pacarnya itu. Sedikit dramatisasi. Untung sedikit, tambah sedikit lagi aku akan muntah. Akupun berpamitan pada pak tua baik hati itu. Dan akhirnya kita menaiki speed boat. Tujuan awal kita Sofifi, ibukota provinsi sekarang. Dari Sofifi kita akan melanjutkan perjalanan via travel car ke kampungnya. Fiuuuuhhh.. jauuh katanya.

************************************
            It’s gonna be worst. Sepanjang mata memandang, abu vulkanik Dukkono menempel dimana – mana. Jalanan, pagar – pagar rumah, tumbuhan dan sebagainya. Ini memang bukan kali pertama aku dihadapkan dengan situasi seperti ini. Sebelumnya aku pernah merasakannya akibat meletusnya gunung Gamalama. Merepotkan dan benar – benar mengganggu aktifitas. Benar saja. Jalanan begitu lengang dan panas tikam kepala. Setelah beberapa jam therapy mengempeskan pantat di jok mobil, akhirnya kita sampai di tujuan.
            Kita berhenti di depan sebuah rumah berhalaman sempit dengan sebuah pohon entah apalah namanya bertengger galau sendirian disana. Kurenggangkan otot – ototku dan menepuk – nepuk pantatku yang sakit. Beberapa orang menyambut kami hangat. Dua orang wanita dengan sirpita (sirih, pinang, tembakau.. :D) berserakan di mulut tersenyum hangat kearah kita. Kemudian kuketahui wanita – wanita itu sebagai ibu Zia dan yang satunya kakak ibunya. Dua anak kecil seusia berlari menyalami aku dan Zia, Nilam adik Zia dan Gina adik sepupunya. Beberapa saat aku terdiam mengamati semua itu. Keluarga yang hangat. Pikirku.
            “Mari nak, masuk. Maaf yah kita orang miskin jadi rumahnya seperti ini.” Ungkapan selamat datang yang menyedihkan dari mulut ibu Zia.
            “Iyah maaf ya Na, inilah rumahku. Maklum orang miskin.” Zia menimpali miris.
            “Ahhh… gak kok tante, Ziaa apa sih, aku bukan orang kaya kok. Biasa saja. Malah sekarang lagi kere.” Kataku sambil tertawa berharap bisa mengalihkan suasana. Zia dan ibunya tersenyum kembali. Aku senang.
            Memasuki ruang tamu, Zia memperkenalkan satu – satu manusia – manusia yang sedang  bertengger di depan TV. Ada ayahnya, dua kakak laki – lakinya dan dua adik cewek kembarnya. Tak ada kursi disana, mereka sedang melantai. Benar – benar keluarga besar. Aku ingat rumahku tak pernah seramai ini kecuali piala dunia digelar, dan isu tsunami kemaren.
            “Ayo Na, ini kamarnya. Kamu istirahat dulu.” Ajak Zia. Tak menunggu ajakan selanjutnya, aku langsung menghambur ke kamar karena benar – benar kelelahan. Aku jarang melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan transportasi darat seperti ini. Tapi aku tak bisa tidur dengan apa yang selanjutnya terjadi. Aku perhatikan kamar ini lekat. Kamar 2 x 2 m ini begitu sumpek. Satu buah tempat tidur yang hampir rubuh dan satu buah lemari diletakkan disana. Tak ada udara yang masuk karena jendelanya belum jadi hingga harus ditutupi selembar triplek. Lantainya di semen kasar dan berpasir akibat abu gunung yang masuk. Baju diletakkan berserakan sana sini. Kuperhatikan bagian atasnya, atap sengnya rendah tanpa plafon dan gunungnya sedang meletus. Oh my God. Can you imagine how hot over here? Terbersit rasa kasihan pada Zia dan keluarganya. Aku bukan orang kaya dan aku pernah mendapati rumah yang lebih miskin dari ini. Tapi kondisi yang panas dan berantakan seperti ini membuatku merasa tak dapat bernafas. Keringatku sebesar biji jagung dan sepertinya aku harus mencari udara segar sebelum isi perutku keluar dari tempatnya.

************************************
Nossa, nossa.. Assim vocĂȘ me mata Ai, se eu te pego, Ai, ai, se eu te pego
            Anak – anak kecil ini sedang bergoyang dan berdendang ala Neymar yang kocak itu. Lucu. Aku diajari oleh anak – anak ini goyangan pesohor itu. Hujan tadi siang membersihkan jalanan dan pepohonan sejenak dari abu gunung. Akhirnya sore di kampung ini aku habiskan dengan mereka di pantai. Lepas, bebas tanpa beban. Sebagai imbalan les dansa singkat itu, aku mengajari mereka beberapa sapaan dalam bahasa Inggris. Happy to be there among them.
            Malam beranjak dan kita membubarkan diri. Setelah mandi di rumah tetangga, aku dan Zia mengistirahatkan diri di kamar tantenya. Zia memutuskan kita menginap di rumah tantenya saja yang tak jauh dari rumahnya dengan pertimbangan banyaknya orang di rumahnya. Rumah kecil ini terlihat hangat, atap rumbia berlantai tanah. Disini hanya tinggal dua orang. Lita, tantenya dan Pak Rahman ayah tantenya. Aku baru sadar kalau sebagian besar rumah disini masih rumah – rumah sederhana yang sepertinya belum 100% belum rampung. Dua manusia ini begitu ramah dan baik hati. Pak Rahman seorang nelayan, tak dinanya kita akan dihidangkan dengan ikan dan cumi segar jika tangkapan sedang bagus.
            “Kalian berdua dipanggil mamamu, Zia.” Kata tante Lita yang sedikit saja lebih tua dari kita itu.
            “Oiyah, makan malam.” Zia mengingatkan.
            Kita memang istirahat di rumah tantenya tapi urusan makan, tetap di rumahnya. Kita bergegas ke rumahnya dengan waktu tempuh 2 menit. Ibunya mempersilahkan kita makan. Zia kemudian membuka tutup saji di atas meja makan. Disana ada nasi setempat nasi, ikan dua ekor dan sambal. Oiyah ditambah pisang goreng diiris tipis – tipis. Kalau di Ambon mungkin potongan pisang seperti ini sudah kita kategorikan keripik. Pisangnya agak banyak.
            “Makan apa adanya nak, maaf hanya itu yang tersedia.” Kata ibunya.
            “Santai aja, Mom. Sagu dan air saja kuembat,” kataku men-joke.
            Dijelaskan Zia bahwa makanan ini untuk sekeluarga. Hal ini kontan buat mulutku ternganga beberapa menit.
            Whaaaaaattttt…. ??????? sekeluarga??????? Aku membatin tak percaya.
            I still cannot believe. Nasi satu tempat nasi, ikan 2 ekor, sambal dan irisan pisang digoreng untuk dua belas orang. DUA BELAS ORANG. Sumpah demi Tuhan aku tak pernah mendapati situasi seperti ini di kehidupan nyata apalagi di Maluku dan sekitarnya yang menurutku situasi seperti tak mungkin terjadi. Tapi yang terjadi dihadapanku ini. It’s reality.
            Ibunya menangkap keterjetukannku.
            “Hehehehe… maaf ya Nha, beginilah keadaan Zia dan keluarganya. Jadi Nha sudah liat sendiri khan”
            “Hiiihiiii.. gak apa – apa kok, Ma.” Aku nyengir di sergap seperti itu.
            Aku memutuskan untuk memakan beberapa iris pisang digoreng itu dan sambal. Zia menunya sepertiku. Zia minta maaf atas pelayanan yang menurutnya kurang enak itu. Berulang kali kukatakan tidak mengapa. Kukatakan padanya mereka mengajarkan aku sesuatu malam ini. Sesuatu dari sekedar makanan.
Seminggu penuh menunya kurang lebih sama untuk makan siang dan makan sore. Maagku kusumpah agar tidak kambuh. Dan sepertinya penyakit akutku yang satu itu benar – benar mengerti, kecuali hari kedua aku disini. Disuguhi cumi hasil tangkapan pak Man yang dimasak pedas oleh tante Lita, aku begitu bernafsu dpan mengembat habis. Seperti pagi – pagi sebelumnya, Zia dan Aku melakukan research di MA Alkhairaat di kampungnya itu. Zia dan aku sedang berbincang – bincang dengan para guru dan kepsek, aku merasa ruangan ini berputar – putar. Zia panik. Aku meminta diri agar bisa pulang. Sampai didepan rumahnya, seluruh isi perut benar – benar kekeluarkan. Maag oh maag.
Setelah makan malam, biasanya sekeluarga ngumpul di depan TV. Ibu Zia menjelaskan barang eloktronik itulah yang merupakan barang berharga mereka satu – satunya yang didapat dari memenangkan kuis pada saat kampanye Pilkada. Zia, ibunya, kakak ibunya dan aku mengambil posisi di dapur. Ngerumpi. Sambil mengunyah pinangnya, ibu Zia berkisah tentang keluarga besar ini. Saat dia mengucap nama Zia, matanya berbinar dan aku dapat menagkap bangga disana. Memang hanya Zia lah yang berhasil sekolah sampai setinggi ini. Kakak – kakak Zia yang lain putus sekolah. Dua adik kembarnya pun terpaksa putus sekolah. Tinggal Zia dan si Bungsu, Nilam. Miris. Aku tak pernah menyangka akan punya teman dengan kisah ini. Hampir kuteteskan air mata dengan semua kesusahan yang dikisahkan ibunya. Tapi kutahan. Dalam hati akupun turut berbangga dengan Zia.
Aku memperhatikan gerak – gerik ibunya. Mengusap kepala Zia lembut, membuka ikatan rambut kemudian menyisir dan mengikatnya lagi. Beliau mengisahkan tindak tanduk Zia kecil sambil menyuruh si bungsu mengobrak abrik lemari untuk mengambil beberapa lembar foto usang. Aku bisa melihat Zia kecil disana. Zia malu dibuka kartunya oleh ibunya. Mereka saling berebutan foto itu, yang berakhir dengan pelukan kecil ibunya dipundaknya. Dan ayahnya yang sedari tadi telah bergabung dengan kita tertawa melihat mereka. Aku meneteskan air mata. Namun, cepat kutepis dengan ujung jilbabku. Aku memimpikan hal itu seumur hidupku, tapi impian itu masih nyaman dalam ruangnya. Belum terjamah kasih itu. Dalam rumah sederhana ini, aku pun hanya menjadi penonton untuk orang lain yang bagi mereka mungkin hal yang biasa.
Mama, tak bisakah kau memelukku seperti itu.  Tak bisakah kau mengusap rambutku seperti itu. Ataukah kau menertawankanku kala aku berbuat konyol?. Aku rela tinggal di rumah sederhana ini agar mendapatkan itu semua. Ma, terlalu sulitkah permintaanku ini. Aku takkan meminta apa – apa lagi darimu.  Batinku menangis.
Aku tak mampu berada disini lama – lama dan menyaksikan semua itu, aku akan mati iri. Aku minta diri ingin beristirahat.

*********************************************
            “Haaaaaaaaaaaaa…………….” Kulepas semua yang bersarang di hati.
            What a wonderful place, menurut perkiraanku kita sedang berada di ketinggian 700an mdpl sekarang. Setelah hiking berjam –jam akhirnya kita sampai juga. Air terjun dengan tinggi sekitar 10 meter terlukis anggun jatuh diantara bebatuan. Oleh penduduk setempat, tempat ini dijuluki “Jembatan Alam”. Jika dilihat dari bentuknya, memang seperti jembatan yang terbentuk dari bebatuan besar yang menghubungkan dua sisi tebing. Sekilas nampak seperti air terjun itu jatuh kedalam goa, karena bentuk tebing melingkar bersatu dengan jembatan itu. Indah sekali disini.
            Sebenarnya tadi kita hampir tidak dibenarkan untuk mengunjungi tempat ini karena beberapa alasan. Selain karena gunungnya yang masih belum kondusif, hal klasik lagi, mitos. Menurut keyakinan penduduk disini, orang baru apalagi gadis dilarang pergi jika tak ada tetua yang ikut. Jembatan alam itu dipercaya merupakan salah satu sudut kampung makhluk halus yang berada disana. Katanya sudah beberapa orang yang hilang disana. Kita juga dilarang menggunakan bahasa Ternate, karena makhluk – makhluk itu membenci orang – orang dari kerajaan Ternate. Haddeeehh, mitos mematikan langkahku lagi. Tak akan kubiarkan kali ini. Salah mereka, siapa suruh mau mengiklankan tempat itu padaku. Dengan perundingan yang panjang dan lama, maka diputuskan, ditetapkan, haalllaaahh. Kita berhasil dijinkan dan aku harus logat full Ambon. Pasukan siap tempur ini terdiri dari Zia, Kakak lelakinya, aku dan dua orang pemuda kampung yang seusia denganku.
            Dan benar saja, seperti yang diceritakan padaku. Tempat ini indah sekali. Sayang, karena abu gunung, airnya jadi keruh. Tapi tak apalah, I’ll be right back. Kita hanya menghabiskan setengah jam disitu, karena kondisi cuaca yang semakin gelap dan posisi kita yang tolol berani mati ini mendekat kearah gunung yang sedang suka main sembul – sembulan. Suara erangan makhluk kerucut itu membuat ciut hingga harus cepat – cepat turun. Inilah olahraga extreme sesungguhnya.. botttooolll. ahahahahaha.
            Sampai dirumah dengan selamat, kita disuguhi pisang goreng. Lagi. Aku setuju tema jalan kali ini it’s all about pisang goreng. Kalau aku tidak salah, aku perkirakan selama seminggu disini, aku mungkin menghabiskan lebih dari lima tandan pisang. Sumpah. Jika aku pulang ke rumah nanti, liat saja kalau aku buka diatas meja ada pisang goreng. Bakal nangis sampai ketiduran aku-nya.

*****************************************************
            Jam dinding menunjukan pukul 02.00 pagi. Zia dan aku harus berpamitan pulang. Kita memutuskan pulang pagi itu. Aku sudah tak bisa lebih lama lagi dan karena penelitian Zia sudah berhasil dirampungkan. Sebelumnya kita menyempatkan diri untuk mengunjungi Pulau kosong yang berada di timur kampung ini. Pulau Kabhi – Kabhi namanya, mengingatkan aku pada film india Kabhi Kushi Kabhi Gam. Pulau indah berpasir putih bersih. Pulau  ini masih perawan karena tak berpenghuni. Tak jauh dari pulau ini ada dua pulau lainnya yang tersebar berdekatan yang indahnya pun saling menyaingi. Tobelo is wonderful. Surga – surga di kaki langit yang oleh penghuninya pun kadang tak disadari.
            Aku berterima kasih untuk segala kasih yang diberikan dkeluarga Zia padaku selama disini. Banyak juga pelajaran yang kupetik. Aku semakin bersyukur pada Sang Tuan yang memberi kehidupan yang layak padaku dan kusadari bahwa semua hadiah pasti ada harganya, tergantung kita menghargai.
            Sunrise pagi ini menemani perjalanan kita dalam speed boat menyeberangi lepas pantai Sofifi menuju Ternate.

Kamis, 07 Februari 2013

100 hal tentang Hoejan



Syarat: Sekali kamu di-tag, kamu harus menulis 100 kebenaran tentang kamu. Terakhir, pilih 25 orang untuk di tag kembali. Kamu harus men-Tag orang yang telah men-Tag kamu.

(caranya mudah, tinggal copy-paste catatan ini, terus hapus jawaban saya sebelumnya, tag orang-orang yang mau kamu pilih, dan klik Publish atau sebarkan... gampang khan?)

February 7, 2013 

APA :
1. Minuman terakhir kamu minum= kopi
2. Telepon terakhir= pacar
3. SMS Terakhir= bekas murid, Fitri
4. Lagu terakhir yang didengar= Set fire to the rain_ Adelle
5. Tangisan terakhir kali kapan= Tadi siang, sampe ingusan pula, gara – gara nonton film korea.

PERNAHKAH KAMU:
6. Berpacaran dua kali dengan satu orang= gak pernah. Susah gua dapet pacar
7. Selingkuh = weeewww.. pernah.. :D
8. Mencium seseorang dan menyesalinya= hmm.. gak pernah, nikmati aja siih,. hahahahaha
9. Kehilangan seseorang spesial= ya, sahabat gua. 3 orang lagi. Pergi ke pangkuanNya duluan.
10. Depresi= waduuhhh.. Hamdalah jauuh, banyak orang tercinta sekeliling yang sayang gue
11.Mabuk dan muntah= gak pernah tp pengen banget ngerasain mabuukk.. penasaran*&^&

TIGA WARNA FAVORIT:
12. Hitam
13. Merah
14. Ijo

DI TAHUN 2013:
15. Membuat pertemanan baru = kayaknya baru dikit.
16. Jatuh cinta= gak.. seingat gue gak pernah jatuh cinta lagi semenjak SMA kelas 2. Susssah booo..
17. Tertawa sampai menangis = Jarang., sampe terjungkal – jungkal.. BANYAK. haha
18. Bertemu seseorang yang sanggup mengubahmu= blom pernah extremely., gue batu.. :D
19. Menemukan sahabat sehati dan sejati = kalo sehati beberapa, sejati gak ada. Gue bukan penganut sekte sahabat sejati.
20. Menemui seseorang yang bercerita tentang kamu = B A N Y A K.. W H A T E V E R.
21. Mencium seseorang yang ada di daftar temanmu = kalo dari pipi.. BANYAK.. hahaha
22. Berapa banyak orang dalam daftar temanmu yang benar2 kamu tahu= kurang dari 30 % kyknya. Gua agak bermasalah ama yang namanya ingat mengingat palagi nama manusia.
23. Berapa banyak anak yang kamu inginkan= SEMBILAN.. hahaha
24. Punya hewan peliharaan= Kaka, burung nuri tapi dah mangkat, ma beberapa kucing.
25. Punya rencana mengubah nama= kalo bisa. Bokap gue gak kreatif soalnya. Masa kakak gue Megawati & gue Fatmawati. Keluarga Soekarno kale..
26. Apa yang kamu lakukan ultah yang terakhir kemarin: nikmatin sunrise di pantai sendirian ditemani Coca Cola. Seddooohhh… hikss.
27. JAm berapa kamu bangun hari ini : jam 5 subuh
28. Apa yang kamu tonton tadi malam : Fox movies. Gladiator. Film kesukaan gue.
29. Nama seseorang yang tidak bisa kamu tunggu : dosen gue, dosen OTW sedunia. Mr. eric.
30. Terakhir kali berjumpa ayah : L U P A
31. Satu hal penting yang ingin kamu ubah dalam hidup kamu= kesalahan gua nyakitin seseorang.
32. Apa yang kamu dengar sekarang= Suara banci – banci yang suka lipsinc dari TV di luar.
33. Pernahkah kamu berbicara dengan seseorang bernama Tom= pernah., bule Ausie
34. Apa yang akan membuat kamu gugup sekarang= hmmm.. beradu pandang. Gua anti.
35. Situs yang sering dikunjungi= Facebook, Twitter, Wikipedia, Youtube, ma Blogger.
36. Nama lengkap kamu= Fatmawati Laisouw
37. Nama panggilan = Onha, Fat, Wathy, Karibo, Ose, Ngana, Jagoan., etc.
38. Status hubungan = masih gak jelas.
39. Zodiac = Virgo
40. Laki-laki/ Perempuan = Perempuan
41. Sekolah Dasar= SD Negeri 1 Hika
44. Warna Rambut =Hitam Shiny
45. Panjang / pendek= Panjang
46. Tinggi = 164 cm.
47. Pernahkan tergila-gila dengan seseorang = Pernah.
48: Apa yang kamu suka dari diri kamu : gak suka campurin urusan orang, to the point, gak suka kerja setengah2.
49. Pernah ditindik= Pernah, di telinga buat masang anting. :o
50. Tato = Gak punya, kemaren sempet pengen buat waktu di China. Cuman Kharrrooom.. :D
51. Tangan kanan atau kidal= Kanan.

PERTAMA KALINYA:
52. Operasi= Kaki, kecelakaan motor.
53. Tindik= bayi kali yee…
54. Punya  Sahabat= banyak
55. Belajar Olahraga = voli
56. Liburan= Pantai Liang, Ambon.
58. Mimpi basah/ Haid = ekheeemmmmm..

FAVORIT:
59. Makanan = Gue food lovers, kecuali yang mengandung bebs dan sejenis.
60. Minuman = Coffee paaaaakk..
61. Saya sedang = Nyari kejelasan dari beberapa hal yang blom jelas.
62. Musik Favorit = Slow Rock
63. Apa yang kamu tunggu= Kejelasan

MASA DEPANMU
64. pengen punya anak? So pasti, 9 maunya.. hahahaha
65. Pengen menikah? Mauuuu beuudssss, tapi gak sekarang yeee sayyy.. :p
66. Pekerjaan? Teacher ampe matiiii.

PILIH MANA :
67. Bibir atau Mata= M A T A
68. Pelukan atau Ciuman= ciuman di kening
69. Pendek atau Tinggi=Tinggi
70. Tua atau Muda = Tua
71. Romantis atau Spontan = Gua suka yang spontan.
72. Perut bagus atau Lengan bagus= Perut.
73. Sensitif atau Berisik = Sensitif
74. Hubugan tanpa status atau menjalin hubungan jelas= yang jelas deh, udah pernah HTS, banyak sakit atii.
75. Pencari masalah atau orang yang ragu-ragu-= pencari masalah

PERNAHKAH KAMU :
76. Mencium orang yang tidak kamu kenal= Najis.
77. Minum minuman keras= Gak pernah. Pengen. Penasaran.
78. Kehilangan kacamata = 2 kali. Suka lupa naroh.
79. Nge-Seks saat pertama kali malam mingguan?= Free Sex. JAUUUUUUH..
80. Mematahkan hati seseorang? = Sepertinya banyak. Mungkin juga ada yg gak gue sadari.
81. Patah hati sendiri?= Jarang, kecuali ma orang yang sama.
82. Pernah ditahan?= Gak sampe ditahan siih.. kalo motor yang ditahan. Beberapa kalii. haha
83. Mengecewakan seseorang?= Pernah. Pacarnya pacar gue.
84. Menangis saat kehilangan ?= yaeeeeeyaaaallaaaaaaahhhhhhhhhh,..
85. Jatuh cinta dengan sahabat?= sahabat tetap sahabat. Ada garis yang gua bentangin.

APAKAH KAMU PERCAYA AKAN:
86. Dirimu sendiri : kadang pesimis.
87. Keajaiban: Absolutely!
88. Cinta Pertama = Nggak
90. Sinterklas= Apalagi
91. Ciuman Pertama= Naaaaahhhhh
92. Malaikat= Islam. Percaya.

JAWAB DENGAN JUJUR!:
94. Punya pacar lebih dari satu sekarang ini            = satu jelaaahh.
95. Kamu senang menyanyi?= senang sih, cuman kata pacar gue, cocoknya buat ngusir settan.
96. Pernah berlaku curang dengan seseorang? Pernah..
97. Jika kamu ingin berbalik pada waktu tertentu, kapan itu?= 7 tahun lalu. Di 2007
98. Jika kamu bisa memilih satu hari dan kemudian memperbaikinya, kapan, tanggal berapa dan kenapa kamu ingin memperbaikinya?= gak ingat waktunya. Tapi waktu itu, gue mungkin akan memutuskan lain.
99. Takut jatuh cinta?= gak. Nyantai aja, udah pernah laluin kisah yang sakit. So take it easy!
100.Apakah yang kamu tulis ini semuanya benar? = Yep!

Rabu, 06 Februari 2013

Laguku



            Aku berjalan pontang panting menyusuri tempat kosku sembari menahan nyeri yang menusuk diselangkanganku. Malam ini begitu sunyi dan kelam. Tidak ada pesta pora gemintang malam ini, hanya ada hujan yang rasa – rasanya sudah tak tahan untuk menyutubuhi seluruh bumi. Aku rapikan jilbab putihku yang sudah miring tak karuan. Sesekali aku menyandarkan tubuhku di dinding – dinding kamar tetangga kosku. Sampai di kos aku membuka tas kuliahku untuk mencari kunci kamar yang kutaruh sembarang. Kuputar – putar ganggang pintu kamar kosku tapi tak mau terbuka. Kuncinya kucabut dan kumasukkan lagi, kuputar kunci di lubangnya agar mendapat posisi yang pas agar pintu itu mau terbuka. Aku gerutui dan menggedor – gedor pintu sialan yang tak mau terbuka itu. Bahkan pemilik kos pun aku gerutui karena tak memperhatikan kondisi infrastruktur kosnya. Setelah beberapa menit berlalu, dan meminta bantuan terhadap tetangga kosku yang juga baru pulang akhirnya pintunya mau terbuka. Sialan ini pintu. Terbersit heran dikepalaku, entah mengapa pintu kosnya hanya dengan satu putaran kunci mau terbuka dibuka oleh tetangga kosku itu. Ah persetan yang penting pintunya sudah mau terbuka. Pikirku.
            Bruuuukkkkkkkkkkk…….. kubanting tubuh kurusku di atas kasur satu badan yang tergeletak dipojok sisi kiri kamar kecil ini. Aku sangat kelelahan dan sakit ini masih menusuk. Hampir kutindih Billy-ku yang telah nyeyak dalam mimpinya, dia begitu berbulu dan sexy. Ku usap – usap kepalanya dan dengan manjanya menyambut belaiam tanganku. Kupandangi jam weker kodok yang kubeli ketika aku baru semester satu tergetelak diantara tumpukkan buku – buku kuliahku. Jam menunjukkan pukul 08.00 malam. Kubuang pandanganku pada tulisan dengan font Algerian yang kutempel di dinding kos hijauku. Tulisan itu diberikan kekasihku 4 tahun yang lalu. Isinya kurang lebih seperti ini :

              “Terbanglah kau manisku, terbang yang tinggi. Kepakkanlah sayapmu kokoh untuk menggapai puncak tertinggi mahadaya. Dan jika kau tak mampu lagi mengepakkannya, maka robeklah dan berjalanlah. Nikmatilah tiap cadas yang merobek kaki mungilmu maupun hati kecilmu. Banggakanlah tiap tetesan air matamu yang asin karena hidup ini perjuangan. Aku akan ada disini manisku., untukmu.,”
Aku suka tulisan itu, entah keluar dari mulutnya sendiri atau dia meng - copy paste, yang pasti aku suka dan kadang menjadi penyemangatku. Hmmmm….Kekasih gelap, anjing loe, tapi gue sayang loe. Kutarik napas panjang, mencoba untuk memejamkan mata yang sudah berat ini. Semenit. Dua menit. Tiga menit. Dan menit – menit  yang lainnya berlalu namun mata ini tak bisa kupejamkan karena perutku masih lapar. Kucoba lagi. Semenit. Dua menit. Tiga menit. Kamar pengap 3 x 3m ini perlahan berubah menjadi taman bunga yang dipenuhi berbagai jenis orchid kesukaanku. Ada banyak kupu – kupu berwarna terbang manja disekitarku dan Billy-ku mengeong – ngeong manja mengejar kupu – kupu itu. Aku merasa bagai Shania Twain dalam You’ve Got Away. Dan ketika ada sesosok pria berbaju putih mirip Dani Pedrosa mendekatiku dan mengajak berlari – lari kecil seperti lakon – lakon film india. Tiba – tiba si Wana Be Dani Pedrosa mendekatkan mulutnya ketelingaku dan….
“Whoooooooiiiiiiiiiyyyyyyyyyyyyyyyyyy….”
Mampuuus… aku kaget setengah mampus akibat gendang telingaku dihadiahi suara berat dengan sentuhan parau itu. Hamparan tanaman bunga nan indah tadi kini berubah menjadi kamar kos dengan baju dan jilbab digantung sekenanya di belakang pintu. Kubuka mataku dan si Pedrosa yang kini telah berubah menjadi pria hitam manis gondrong terkekeh melihatku kaget parah. Aku tutupi wajahku dengan bantal satu – satunya yang kupunya di kamar ini tanpa memperdulikan pria yang kujuluki Samurai X itu. Kalau ditanya mengapa aku menamainya itu, aku suka saja karena aku suka tokoh kartun itu…hehehe.. Nama aslinya Ismail. Dia sahabatku dan sering berbagi denganku. Dia dulunya seorang pendemo kelas hiu jadi tak dinanya suaranya seperti itu, namun sekarang dia telah gantung sepatu karena akuinya bukan lagi media yang bersih dan efektif untuk penyampaian aspirasi. Dirampasnya bantal dengan corak spongebob-ku dan memaksaku untuk bangun kembali.
“Ayoo banguuunnn…. Malas banget loe, jam segini dah tidur.”
“Gila loe.. bisa pecah ni tifa telinga. Gondrong gila. Lagipula masuk kamar cewek gak ngetuk– ngetuk pintu.” Kulempar bantal mengenai kepala gondrongnya. Dan dengan sigap dia mengambil ancang – ancang gaya untuk mengangkat lemari pakaianku untuk dilemparkan ke arahku. Dasar gila bener.
“Loe sih, cewe perawan kok tidur gak ngunci pintu. Salah loe sendiri, gue gedor – gedor sampe pintunya kebuka sendiri.”
Aku tertawa miris mendengar kalimatnya tadi. Si Samurai X kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas plastik yang tadi dibawanya. Harum makanan telah sedari tadi aku hirup. Ayam bakar lengkap dengan sayuran segar dan sambal terasi baru dibelinya.
“Aahh.. gondroooong.. gue cinta banget ma loe.. tahu juga kalo gue lagi lapar”.
Rasa kantukku  langsung lari berdansa dengan iblis demi tergiur makanan yang dibawanya. Tidak menunggu lama untuk dipersilahkan, kuraih piring dan mulai membuai lidahku dengan makanan enak itu. Dia hanya terseyum melihat tingkah rakusku.
“Tadi ketemu Qila di jalan, dia nanya loe thu...”
“Oohhh.. lalu?”
“Loe udah gak ngikut kajian sama mereka ya.. soalnya tadi Qila bilang ke gue.”
Baru kuingat sudah sepuluh kali kajian lebih yang tak kuikuti. Aqila adalah teman kampus sekaligus teman kajianku. Wajahnya teduh dan bercahaya dengan kulit putih isi casava, mungkin karena sering dibasahi air wudhu.  Dia berjilbab besar hampir menutupi seluruh bagian tubuhnya, hanya tangan dan wajahnya yang tak dia hijabi. Dia aktivis yang aktif dalam organisasi Islam baik di organisasi internal maupun external kampus. Akupun diajaknya untuk bergabung dalam salah satu organisasi yang digelutinya dan aku mau – mau saja dengan tujuan untuk memperdalam ilmu agamaku yang masih sangat dangkal. Sering aku ingin sepertinya, dapat menutupi diri seperti itu dan membatasi apa yang seharusnya dimuntahkan dari mulut dan apa yang seharusnya tidak didiskusikan. Sedang aku terbiasa membicarakan apa saja dan mendiskusikan apa saja jika menurutku itu menarik. Mungkin hal itulah yang membuatku kadang merasa kikuk berada disampingnya.
Faktanya, aku sudah tidak merasa nyaman dengan situasi dan brainwash yang sering dilakukan ketika kita bersama – sama dalam forum kajian organisasi itu. Entah yang lainnya, tapi aku benar – benar merasa diriku seperi anak balita yang disuap dengan apa saja asalkan enak akan  ditelannya mentah – mentah. Bahkan kadang aku merasa hanya aku di dalam ruangan itu yang merasa bahwa aku perempuan waras. Narsis. Mungkin. Tapi entah,, bingung sendiri.
            “Iyah, udah lama banget gue gak gabung ma mereka.”
“Kenapa loe? Udah kesetanan lagi ya..”
“Gue udah gak ngerasa nyaman aja di dalamnya. Gue ngerasa kayak orang tolol duduk diantara mereka.”
“Hahahaha…. Karena hafalan ayat dan hadis loe kurang kan..?”
Si Samurai X menggodaku. Kuakui itu, bahkan dia yang kekiri – kirian banyak sekali hafalannya. Ku teruskan makanku yang masih mau menuruti nafsu perutku.
“Salah satunya iyah itu, tapi khan gue masuk situ biar ada lingkungan yang support gue biar gue bisa.”
“Trus apa dong..??”
“Karena kita gak diberi kesempatan mikir tahu gak sih loe, dasar mereka itu adalah ayat Al- Qur’an, gue lupa surat manalah itu. Bunyinya kurang lebih kamu dengar dan kamu laksanakan.”
“Trus..???”
“Jadi kita kajian itu satu arah, kalaupun ada yang ditanyakan jawabannya gak buat gue puas, terlalu umum jawabannya. Kalo jawabannya umum gitu gue juga tahu. Udah gitu teman – teman kajian gue cuma dengar dan manggut – manggut. Kadang bilang Astagfirullah, suatu waktu bilang Alhamdulillah, lain waktunya yang lain - lainnya. Frustasi gue. Belum tentu juga yang dibilang benar khan.”
“Hahahaha… kasian banget sih loe. Gue pernah baca tentang gerakan mereka. Fundamentalis dan Radikal. Nas – nas yang mereka gunakan pun gak jarang banyak yang gak shahih”
“Tiap kajian hati kita thu dipupuk dengan rasa benci terhadap orang – orang jangankan orang selain Islam, organisasi Islam selain mereka juga kadang di label kafir, apalagi ama thu negaranya Obama thu. Bosen gue, kalo gitu trus bisa busuk ni hati. Gue masuk kesana bukan agar diajari cara membenci. Gue setuju tuh ma statement gak ada alasan untuk menghakimi seseorang karena keberagaman agamanya khan. Entah dia Yahudi, Kristen, atau yang lainnya. ”
Aku mengomel sedari tadi panjang lebar memuntahkan seluruh kebosanan dan kekecewaan yang bersarang di hati. Hingga tak sadar dua bongkahan ayam bakar kuhabiskan. Ooopsss… Si Samurai X duduk manis mendengarku dengan sesekali senyuman ejekan disunggingkan kearahku. Dia selalu sabar mendengarkanku. Pria gondrong ini selain sahabat juga sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.
“Hmmmm… no peace inside….”
“Pastinya… they prefer to choose a war than a piece of peace. You know gue gak suka perang and mungkin semuanya juga gak suka ama perang.”
“PEACE FOR ALL GOD’S CREATURE IN THE WORLD….”
“PEACE FOR ALL GOD’S CREATURE IN THE WORLD…. NO WAR.. BECAUSE I DO BELIEVE THAT MA GOD EITHER WON’T HIS CREATURE TO KILL EACH OTHER AND DROP THE WARM BLOOD IN HIS EARTH. ”

Sejurus, kita seperti dua orang duta perdamaian PBB. Kita ketawa sendiri.
When you're at the end of the road. And you lost all sense of control.
And your thoughts have taken their toll. When your mind breaks the spirit of your soul

            21 Gun-nya greenday mengalun pelan dari hp ku, ada pesan yang kuterima. Kuraih hp dan kubaca perlahan. Isinya panjang lebar. Banyak omong kosong, permintaan maaf. Kubanting hp itu kasar. Si Samurai X hanya memandang tak ingin bertanya.

Tidak kuhabiskan sisa makanku. Bad mood lagi. Si Samurai X meraih gitar milik Alco teman tetangga kosku. Aku meminjam gitar Alco karena ingin belajar musik petik itu. Langit telah bergemintang kembali. Sedari tadi kubiarkan pintu dan jendela kamar kosku terbuka. Gemintang terlihat begitu jelas pada frame langit malam ini. Si Samurai X mulai memetik senar mengalunkan beberapa nada. Aku duduk disampingnya, mendekap kedua paha menyatu dengan dadaku. Lagu demi lagu dia senandungkan. Aku merequest rapuh_nya Padi. Dia menyinggungkan senyum kecut di bibirnya sedikit seperti tahu apa yang sedang kurasakan. Ah dia memang tahu, tak perlu kuserakkan kata - kata. Jari – jarinya mulai cekatan memetik chord intro lagu itu, Cmaj kemudian ke G. Petikannya benar – benar menambah galau hati. Suara beratnya teratur menyenandungkan bait demi bait, aku larut. Tak disangka air mataku menetes perlahan. Suasana hatiku agak membaik ketika si Samuari X ku datang tadi, tapi sekarangsudah tak karuan lagi.

“Loe disakitin lagi ma tuh lelaki brengsek?”. Dia menghentikan petikan gitarnya. Dia sepertinya sudah tidak tahan melihatku sakit tertahan seperti ini. Aku diam.
“Loe tuh napa sih..?? gue gak ngarti tahu gak. Itu laki udah punya calon bini, mau – mau aja lo ama dia. Loe tuh bodoh atau apa sih?”
“Gue sayang banget ma dia. Loe gak akan pernah ngarti karena loe gak ngerasa di posisi gue”

Dia speechless sejenak. 

“Gin, gue emang gak ngarti loe. Gua juga mungkin gak berada di posisi loe. Tapi gue sakit liat loe disakitin trus. Sekarang kenapa lagi?”
Aku tertunduk.
“Dia udah ngelamar pacarnya semalam. Dia pengen gue lupain semua tentang kita. Gue tahu dia sangat banget ama gue.”
“Dia tuh gak sayang ama loe. Buktinya dia sering nyakitin loe. Buka mata loe Ginaaaaaa.”
“Gue bisa tahu dia sayang banget ama gue. Dia ngasih semua yang gak dia kasih buat Kia walau dia juga sayang ama Kia. Dia cuman gak ingin nyakitin Kia lagi.”
“Tapi dia nyakitin loeee. Loe tuh punya otak gak sihh.”
“Terserah kata loe, gue tetap sayang ama dia ampe kapanpun.”
Dia terdiam, aku terdiam, semua terdiam. Wajahnya memerah, mungkin rasa kasihannya kini berbalik marah. Dia membenarkan posisi gitarnya. Dia memetikkan beberapa chord. Petikannya kali ini mengandung emosi dan benar – benar kurasakkan dalam. 

Mungkinkah kau tahu
Rasa cinta yang kini membara
Yang masih tersimpan
Dalam lubuk jiwa
Ingin kunyatakan
Lewat kata yang mesra untukmu
Namun ku tak kuasa
Untuk melakukannya
Mungkin hanya Lewat lagu ini
Akan kunyatakan rasa Cintaku padamu
Rinduku padamu Tak bertepi.
Mungkin hanya Sebuah lagu ini
Yang slalu akan kunyanyikan
Sebagai tanda Betapa aku, inginkan kamu
Mungkin hanya Lewat lagu ini
Akan kunyatakan rasa
Cintaku padamu
Rinduku padamu Tak bertepi
Mungkin hanya Sebuah lagu ini
Yang slalu akan kunyanyikan
Sebagai tanda Betapa aku, inginkan kamu

"Laguku" milik Ungu mengalun emosional dari bibirnya. Tetes bening itu tak kusangka bisa mengalir dari sudut matanya. Dia menatap bintang disana. Aku gundah dan bingung. Apa segitu prihatinnya dia dengan masalahku hingga tetesan asin yang tak pernah dia teteskan dihadapanku, kini mengalir membasahi lekuk pipinya. Dia mengakhiri lagu itu, dan kita kembali diam. Sambil menyerahkan gitar itu padaku, dia tak memandangku sedikitpun.

“Lagu itu buat loe,” katanya pelan sambil berlalu.

Aku diam, diam. Tak tahu harus berkata apa, hanya bisa melihat punggungnya yang semakin menjauh. Aku menyakitinya. Dia sakit, aku sakit dan kita kesakitan akibat rasa ini.