Selasa, 13 November 2012

Catatan Akhir di Kampus Biru



Panas tikam otak menyentuh hingga psychology mencipta hujatan panjang.Mahasiswa yang sebagian besar siap nganggur udah ngantri dari pagi menunggu si ibu siapalah namanya bagian administrasi untuk pengambilan toga. Hingga azan Dhuhur berkumandang, blom juga ada tanda – tanda ujung kacamata si ibu itu. Episode hujat – menghujat pun makin panjang.Gua perhatiin satu – satu wajah teman mahasiswa.Tampaknya bahagia. Guatanya diri, apa gua juga sebahagia mereka? Jawabannya diantara. Ahahaha..
Dalam ni rimba otak sedang sibuk berkecamuk hal – hal yang akan hilang atau setidak – tidaknya intensitasnya bakal berkurang jauh. Hmmm…Hal pertama yang muncul sekaligus buat galau, uang jajan.Kalo kuliah minta duit, daftar pertanyaannya bakal kurang dari 2 pertanyaan.Walau duitnya bakal digunakan melenceng dari jawaban pertanyaan itu.Tapi kalo minta duit jangankan selesai wisuda, H-2 gini aja daftar pertanyaannya bakal panjang kayak daftar belanja bulanan nyokap.Ujung – ujungnya kalo gak lolos babak tes lisan itu, uang jajan pun nihil. Hadeeehh…
Cerita selanjutnya, tuntutan keluarga dan diri.Abis wisuda mo ngapain?Mo kerja dimana? Masa depan gua cerah benderang ato gelap kelam gulita? Hallaaahh… Planning tetap ada, tapi sebelum pengeksekusian planning – planning itu ada beberapa keadaan yang gak masuk perhitungan terjadi hingga kayaknya harus dirombak habis – habisan. Kadang jargon let it flow like a water menjadi pilihan terakhir. Keluarga pengennya jadi PNS biar jelas. Tapi gua benar – benar gak siap dengan rutinitas yang sama setiap hari sepanjang hidup. Pagi mesti ke sekolah, sorenya udah capek gak pengen ngapa – ngapain pasti langsung istirahat. Besok nya gitu lagi. Besoknya besok besok sama juga. Kalo udah nikah apalagi. Mungkin orang bakal berpikir gua aneh atau apalah, tapi jangankan dijalani, dipikirkan aja gua ampe abstain. Swuueer gila.Gua gak pengen hidup datar – datar aja dengan aktivitas yang juga datar. Gua lebih suka jadi guru kontrak atau lepas dari satu daerah terpencil ke satu daerah terpencil lain sembari nikmati hidup sebelum kawin, tapi keluarga pasti gak ngijiinin. Tawaran datang dari kampus untuk melanjutkan studi pada beberapa Universitas di Pulau Jawa pada Maret mendatang tapi bingung diambil atau tidak.Masih mengalami dualisme pertimbangan.hadeeeehhhh lagee…..
Hal yang kupikirkan lainnya adalah kehilangan mereka, sahabat.Gua punya banyak teman tapi seperti para manusia pada umumnya, ada beberapa manusia yang mungkin sengaja diciptakan Tuhan untuk melengkapi puzzlehidup manusia lainya agar lebih mudah saling menghidupi hidup bersama, sahabat.
And tereraangsss…Ni dia ni para manusia yang bersedia meluangkan sedikit ruang dalam hatinya untukku.

*Ka Ela… :p
Kite mulle cerite dari si Ella, si manis dari jembatan 1 dekat barangka toboko. Hahaha.. Sohib gua yang satu ini berasal dari kota Gorontalo sana. Lembutnya gak ketulungan.Gilanya gak ada buntut, kayaknya saraf di otaknya ngilang 10 kait.
Hmmmmm… gua gak ingat pasti kapan kita kenalan waktu di kampus tapi masih teringat jelas pertama kali melihat sosok gadis maniswaktu ospek dengan tinggi sekitar 160-an dengan umur yang gak seharusnya nangis ampe segitunya, nangis termehek – mehek hingga wajah putihnya memerah kayak udang dan gak bisa napas. Cerita punya cerita, dia dipaksa pacaran ma senior jorok dengan tahi mata ukuran kubah masjid menempel di sudut matanya.Serius gua..kubah masjid. Pernah si senior berceloteh tentang eksistensi mahasiswa dengan tambahan aksesoris tahi matanya itu, and the result is kita semua gak fokus pada eksistensi mahasiswa yang dicelotehin itu tapi malah cekikikan nyetel autofokus pada eksistensi tahi matanya itu..hahaha..
Memang banyak dosen dan mahasiswa yang kecantol dengan pesona cantik alaminya..hallaaaahhh… ;D
Yang nanya no hape dan namanya gak jangan dihitung.Dari mulai dosen, tukang somai, tukang bakso, tukang ojek, malah tukang jaga masjid juga pernah.Kalo yang ditanya gua, siap – siap sohib gua ini gonta ganti KTP dah. Pernah gua bilang ke salah satu dari mereka namanya Gina, lainnya Elizabeth, lain waktu lagi Rina, dan segudang nama lainnya.
So far, Gua salute ama sohib gua ini. Banyak pelajaran yang gua petik dari perjuangan hidupnya. Kisah struggle kita alurnya sama sebenarnya tapi temanya a little bit different. Mungkin itu pula yang buat kita bisa dekat dan berbagi tentang banyak hal.



* Safria..  ;)
Ini dia si Miss Perfectionist.Actually bukan dalam hal stylish tapi lebih ke hal – hal kecil yang jarang manusia pikirkan, dia pikirin.Beneran.Dan hal – hal itu bakal membantu banget kalo sedang diperluin. Contoh konkrit : misalnya pantat celana sobek ni dalam suatu perjalanan, nyari safria buntutnya, karena safria pasti punya jarum dan benang sekaligus bakat menjahitnya. Kalo sakit juga, meski safria bukan bu doktel, tapi dia pasti punya kotak penuh obat lengkap dengan deskripsi kegunaannya.
Gua bangga ma sohib gua ini, personal leadership nya jempolan. Kritis,, (dalam hal ini teman baiknya gua.. cita – cita kita jadi pemerhati pendidikan Maluku Utara.. semogaa… ahaha).
Bendahara kecamatan, sering juga gua menyebutnya seperti itu.Gua orangnya boros, jadi kalo urusan uang sebagian besarnya ya yang urus ya safria, biar gak kepake habis. Hahaha…
Banyak dosa gua ama dia..hahaha.. maap yua..
Gua pernah nipu seisi kelas kalo dosen killer nya dah masuk.Berhubung gua ketua tingkat, percaya aja mereka. Hahaha..
Safria hampir aja nyetop angkot dan naik ojek demi baca sms gua.Si Ella sampe gak mandi padahal baru masak dan bau kompor. Teman wartawan gua lari dari kantor walikota..sementara gua lagi main PS di rental deket kampus…. :D
Kampus oh kampus..safria oh safriaku.. :p


* Juniarty.. ;p
Gua masih ingat pertama kali kita bertemu beberapa tahun lalu.Ketika itu kita sedang menjalani masa orientasi mahasiswa.Si cewek ini senang menyenandungkan lagu Baby oh Baby atau apalah judulnya itu milik Cinta Laura. Suaranya dari nilai 10 kuhadiahi 0 saat itu. Begitu sumbang dan nadanya lari zig zag kayak orang dikejar babi, kalau didengar Cinta Laura mungkin bisa digugat dengan pasal seenaknya banting lidah hingga lagunya terdengar aneh. Tapi disisi lain, gua salut dengan semangatnya. Tgak pusing dengan kata orang.Semangatmu dari nilai 10 kuhadiahi 11. Bersama sepupunya, mereka seperti kembar siam gila. Naga – naganya ingin bernyanyi dengan aksen British English fasih tapi yang terjadi malah lidah berputar kayak gulungan roti molen. 
Gua suka orang gila karena tidak sedikit yang menganggapku seperti itu.gua tipikal orang yang banyak diam dan senang mengamati. Tidak banyak bicara dengan orang baru dan jikalau bicarapun hanya jika diperlukan.Berbanding terbalik dengannya yang hiperaktif seperti ponaan 7 tahun ku jika disogok uang pattimura.Lo yang berisik dengan pembicaraan kosong dan sedikit songong, sangat tak gua suka disamping gadis galau yang baca puisi sambil ngesot kayak film horror itu.
Gua ingat juga ketika sohib gua ini gak mau ambil baik ketika dibilang orang miskin oleh senior jorok dengan merah pinang di mulut. Gua hanya bisa geleng – geleng kepala dan abstain. Ada tiga alasan sebenarnya gua geleng – geleng, alasan yang pertama gua ngeerasa lucu dengannya yang lugu sekaligus terlalu jujur, alasan yang kedua gua pusing melihat senior dengan ludah pinang keteteran di sudut - sudut bibirnya itu, dan alasan terakhir…hmmmm..lupa agua. Senior itu pulalah dengan tiga senior sok disiplin yang menggonggongku seperti sepherd karena aku mengikuti orientasi pakai sandal. Dan kau….. kau selalu tersenyum melihatku. Aku tak tahu mengapa kau selalu begitu.Apa waktu itu diotakmu aku seperti badut keliaran. Tak tahulah.
Seiring waktu berlalu, tak tahu di episode yang mana kita bisa bersahabat dan dekat.Mungkin benar kata idolaku Soe Hok Gie, “Kita berbeda dalam segala kecuali dalam cinta”. Cinta itulah yang menyatukan kita

If I come back to Ambon, I’ll be missing U guys…. Missing our outstanding moments. Every single we’ve ever stepped together was ma best moments…. 
It’ll be weird when I used to do everything with U guys, in a few weeks later I’ll do by ma self or another new fren..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar