Senin, 11 Februari 2013

Tobelo dan Aku

            “Tobeloooo.. Tobeloooo.. mo ke Tobelo adik? Ayo di speed boat kami. Langsung berangkat.”           Ajak seorang pria muda yang sepertinya umurnnya lebih muda dariku. Aku menolak dengan sopan ajakannya yang berkali – kali itu. Kukatakan padanya aku sedang menunggu temanku. Aku berjalan menuju ruang tunggu sederhana yang atapnya terbuat dari rumbia di pelabuhan itu. Backpack yang sedari tadi kupikul kuletakkan dan kusandarkan pada bangku kayu panjang. Kulirik jam di hape. Waktu menunjukkan pukul 05.15 pagi. Waktu yang disetujui aku dan temanku untuk berkumpul di pelabuhan ini. Nama temanku itu Zia. Kita akan menyambangi kampungnya, Popilo namanya. Sebenarnya aku tidak berniat ikut karena kantongku benar – benar sobek alias kere, tapi si Zia insist karena dia ingin aku membantunya untuk melakukan peneletiannya itu. Dia akan menanggung seluruh ongkos kita. Kampungnya terletak di pulau Halmahera sana, kebetulan sekali aku belum pernah mengunjungi pulau yang dijuluki gajah tidur itu. Sebagai pecinta tualang, aku bersemangat. Menyadari semua itu gratis, aku makin bersemanngat. (jiaaahhh… :p).
            Kubuang pandang jauh kearah timur kaki langit. Semburat – semburat halus cahaya pink menyebar indah bersinergi dengan biru muda langit seakan ingin membentuk lukisan abstrak. Mentari akan menyapa bumi biru lagi, di tempatku, dia akan mucul dengan megah dari balik pulau yang akan kukunjungi itu. Subhanallah. Kutarik nafas panjang, kulantunkan terima kasih pada Sang Tuan untuk kasihNya yang Maha.
            “Kopi dik??,” tawar seorang pria tua mengagetkanku sambil mengambil posisi tepat disebelahku.
            “Ooh makasih pak. Tapi mungkin aku gak lama,” jawabku menimpali.
            “Hmmm.. lagi nunggu teman?? mau ke Tobelo atau??” tanyanya beruntun,
            “Iyah pak, nunggu teman. Mau ke Tobelo, Popilo.” Jelasku lengkap.
            “Dukkono lagi polote tuh.
            Polote ??
            “Adik bukan orang Ternate ya?.” Dia tersenyum mempertontonkan gigi ompongnya.
            Aku menggeleng.
            Polote itu meletus. Jadi gunung Dukkono yang ada di seputaran Galela Tobelo itu sedang mengeluarkan material abu vulkanik sekarang. Hati – hati kesana.”  Terangnya.
            Aku ciut. Namun, demi pengabdian terhadap kampus dan masyarakat, kita harus melakukan misi penelitian ini sampai selesai. (pandangku kearah kamera sambil melotot,..halllaaahh.. hahaha). Aku tersenyum sendiri dan pak tua itu bingung jadinya. Mungkin dipikirnya otakku agak miring karena ekspresi yang diharapkan berbanding terbalik. Aku senang mendengar aksen “Dukkono” itu. Ada pressing pada huruf “k”, hingga terdengar seperti bahasa Jepang. Overall, aku sudah cek status gunung itu, belum terlalu membahayakan.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 05.45 pagi. Zia belum memunculkan batang jidatnya. Pesan – pesanku dan teleponku pun tak diangkat. Aku merasa tanduk tersembunyiku mulai tumbuh merobek jilbabku, dan dengusanku pun menyembulkan asap panas. Jika saja teleponku diangkat sekarang, aku akan menatarnya sampai habis. Sumpah demi apa saja aku bukan tipe manusia penyabar jika berhubungan dengan tunggu menunggu ini. Aku bela – belain bangun jam setengah 4 pagi untuk mengerjakan semua tugas yang biasanya kukerjakan selesai sholat subuh, PLUS memerkosa eucalyptus-ku. Dan kini, aku disini menghabiskan hampir satu jam menunggu dengan mata yang hampir melompat keluar. Sejurus kemudian myself nya LP mengalun keras dari hapeku. Ada sms.
Assalam.. Sist maaf aku kesiangan, ni dah OTW kesitu.
Pesan singkat dari Zia. Aku balas singkat juga.
Besok aja baru kesini. Gak konsisten.
Dia tahu aku marah makanya dia melancarkan permohonan maaf yang berulang kali. Aku terlanjur ill feel. Kalo saja dia bukan temanku. KALAU SAJA.
Aku harus menunggu setengah jam lagi, karena jarak tempuh dari kosannya ke pelabuhan ini lumayan jauh. Kuputuskan memesan kopi. Pak tua itu hanya tersenyum melihat wajahku yang memerah. Mentari makin meninggi, jantung pelabuhan inipun berdetak makin kencang. Manusia mulai banyak yang lalu lalang. Nasi Jaha atau nasi bamboo temani pagiku dan pak tua ini. Perlahan emosiku agak mereda demi mendengar pak tua mengisahkan beberapa legenda negeri Sultan. I am impressed. Kami tenggelam dalam sejarah. Aku pun tak kalah sotoy untuk mengaitkan sejarah kesultanan dengan tempat aku dibesarkan di Ambon sana. Ternyata beliau berkata memang berkaitan erat.
Seorang gadis tersenyum dari jauh dibalik punggung cowok diatas Shogun merahnya. Zia. Aku kembalikan senyumannya. Mau bagaimana lagi. TEMAN.
“Na, sorry…….”
“Ahaa,, gak usah dibahas. Yuuk.”
Aku tak suka basa basi jika ada yang mengecewakan. Diamkan saja aku. Dia berpamitan pada pacarnya itu. Sedikit dramatisasi. Untung sedikit, tambah sedikit lagi aku akan muntah. Akupun berpamitan pada pak tua baik hati itu. Dan akhirnya kita menaiki speed boat. Tujuan awal kita Sofifi, ibukota provinsi sekarang. Dari Sofifi kita akan melanjutkan perjalanan via travel car ke kampungnya. Fiuuuuhhh.. jauuh katanya.

************************************
            It’s gonna be worst. Sepanjang mata memandang, abu vulkanik Dukkono menempel dimana – mana. Jalanan, pagar – pagar rumah, tumbuhan dan sebagainya. Ini memang bukan kali pertama aku dihadapkan dengan situasi seperti ini. Sebelumnya aku pernah merasakannya akibat meletusnya gunung Gamalama. Merepotkan dan benar – benar mengganggu aktifitas. Benar saja. Jalanan begitu lengang dan panas tikam kepala. Setelah beberapa jam therapy mengempeskan pantat di jok mobil, akhirnya kita sampai di tujuan.
            Kita berhenti di depan sebuah rumah berhalaman sempit dengan sebuah pohon entah apalah namanya bertengger galau sendirian disana. Kurenggangkan otot – ototku dan menepuk – nepuk pantatku yang sakit. Beberapa orang menyambut kami hangat. Dua orang wanita dengan sirpita (sirih, pinang, tembakau.. :D) berserakan di mulut tersenyum hangat kearah kita. Kemudian kuketahui wanita – wanita itu sebagai ibu Zia dan yang satunya kakak ibunya. Dua anak kecil seusia berlari menyalami aku dan Zia, Nilam adik Zia dan Gina adik sepupunya. Beberapa saat aku terdiam mengamati semua itu. Keluarga yang hangat. Pikirku.
            “Mari nak, masuk. Maaf yah kita orang miskin jadi rumahnya seperti ini.” Ungkapan selamat datang yang menyedihkan dari mulut ibu Zia.
            “Iyah maaf ya Na, inilah rumahku. Maklum orang miskin.” Zia menimpali miris.
            “Ahhh… gak kok tante, Ziaa apa sih, aku bukan orang kaya kok. Biasa saja. Malah sekarang lagi kere.” Kataku sambil tertawa berharap bisa mengalihkan suasana. Zia dan ibunya tersenyum kembali. Aku senang.
            Memasuki ruang tamu, Zia memperkenalkan satu – satu manusia – manusia yang sedang  bertengger di depan TV. Ada ayahnya, dua kakak laki – lakinya dan dua adik cewek kembarnya. Tak ada kursi disana, mereka sedang melantai. Benar – benar keluarga besar. Aku ingat rumahku tak pernah seramai ini kecuali piala dunia digelar, dan isu tsunami kemaren.
            “Ayo Na, ini kamarnya. Kamu istirahat dulu.” Ajak Zia. Tak menunggu ajakan selanjutnya, aku langsung menghambur ke kamar karena benar – benar kelelahan. Aku jarang melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan transportasi darat seperti ini. Tapi aku tak bisa tidur dengan apa yang selanjutnya terjadi. Aku perhatikan kamar ini lekat. Kamar 2 x 2 m ini begitu sumpek. Satu buah tempat tidur yang hampir rubuh dan satu buah lemari diletakkan disana. Tak ada udara yang masuk karena jendelanya belum jadi hingga harus ditutupi selembar triplek. Lantainya di semen kasar dan berpasir akibat abu gunung yang masuk. Baju diletakkan berserakan sana sini. Kuperhatikan bagian atasnya, atap sengnya rendah tanpa plafon dan gunungnya sedang meletus. Oh my God. Can you imagine how hot over here? Terbersit rasa kasihan pada Zia dan keluarganya. Aku bukan orang kaya dan aku pernah mendapati rumah yang lebih miskin dari ini. Tapi kondisi yang panas dan berantakan seperti ini membuatku merasa tak dapat bernafas. Keringatku sebesar biji jagung dan sepertinya aku harus mencari udara segar sebelum isi perutku keluar dari tempatnya.

************************************
Nossa, nossa.. Assim você me mata Ai, se eu te pego, Ai, ai, se eu te pego
            Anak – anak kecil ini sedang bergoyang dan berdendang ala Neymar yang kocak itu. Lucu. Aku diajari oleh anak – anak ini goyangan pesohor itu. Hujan tadi siang membersihkan jalanan dan pepohonan sejenak dari abu gunung. Akhirnya sore di kampung ini aku habiskan dengan mereka di pantai. Lepas, bebas tanpa beban. Sebagai imbalan les dansa singkat itu, aku mengajari mereka beberapa sapaan dalam bahasa Inggris. Happy to be there among them.
            Malam beranjak dan kita membubarkan diri. Setelah mandi di rumah tetangga, aku dan Zia mengistirahatkan diri di kamar tantenya. Zia memutuskan kita menginap di rumah tantenya saja yang tak jauh dari rumahnya dengan pertimbangan banyaknya orang di rumahnya. Rumah kecil ini terlihat hangat, atap rumbia berlantai tanah. Disini hanya tinggal dua orang. Lita, tantenya dan Pak Rahman ayah tantenya. Aku baru sadar kalau sebagian besar rumah disini masih rumah – rumah sederhana yang sepertinya belum 100% belum rampung. Dua manusia ini begitu ramah dan baik hati. Pak Rahman seorang nelayan, tak dinanya kita akan dihidangkan dengan ikan dan cumi segar jika tangkapan sedang bagus.
            “Kalian berdua dipanggil mamamu, Zia.” Kata tante Lita yang sedikit saja lebih tua dari kita itu.
            “Oiyah, makan malam.” Zia mengingatkan.
            Kita memang istirahat di rumah tantenya tapi urusan makan, tetap di rumahnya. Kita bergegas ke rumahnya dengan waktu tempuh 2 menit. Ibunya mempersilahkan kita makan. Zia kemudian membuka tutup saji di atas meja makan. Disana ada nasi setempat nasi, ikan dua ekor dan sambal. Oiyah ditambah pisang goreng diiris tipis – tipis. Kalau di Ambon mungkin potongan pisang seperti ini sudah kita kategorikan keripik. Pisangnya agak banyak.
            “Makan apa adanya nak, maaf hanya itu yang tersedia.” Kata ibunya.
            “Santai aja, Mom. Sagu dan air saja kuembat,” kataku men-joke.
            Dijelaskan Zia bahwa makanan ini untuk sekeluarga. Hal ini kontan buat mulutku ternganga beberapa menit.
            Whaaaaaattttt…. ??????? sekeluarga??????? Aku membatin tak percaya.
            I still cannot believe. Nasi satu tempat nasi, ikan 2 ekor, sambal dan irisan pisang digoreng untuk dua belas orang. DUA BELAS ORANG. Sumpah demi Tuhan aku tak pernah mendapati situasi seperti ini di kehidupan nyata apalagi di Maluku dan sekitarnya yang menurutku situasi seperti tak mungkin terjadi. Tapi yang terjadi dihadapanku ini. It’s reality.
            Ibunya menangkap keterjetukannku.
            “Hehehehe… maaf ya Nha, beginilah keadaan Zia dan keluarganya. Jadi Nha sudah liat sendiri khan”
            “Hiiihiiii.. gak apa – apa kok, Ma.” Aku nyengir di sergap seperti itu.
            Aku memutuskan untuk memakan beberapa iris pisang digoreng itu dan sambal. Zia menunya sepertiku. Zia minta maaf atas pelayanan yang menurutnya kurang enak itu. Berulang kali kukatakan tidak mengapa. Kukatakan padanya mereka mengajarkan aku sesuatu malam ini. Sesuatu dari sekedar makanan.
Seminggu penuh menunya kurang lebih sama untuk makan siang dan makan sore. Maagku kusumpah agar tidak kambuh. Dan sepertinya penyakit akutku yang satu itu benar – benar mengerti, kecuali hari kedua aku disini. Disuguhi cumi hasil tangkapan pak Man yang dimasak pedas oleh tante Lita, aku begitu bernafsu dpan mengembat habis. Seperti pagi – pagi sebelumnya, Zia dan Aku melakukan research di MA Alkhairaat di kampungnya itu. Zia dan aku sedang berbincang – bincang dengan para guru dan kepsek, aku merasa ruangan ini berputar – putar. Zia panik. Aku meminta diri agar bisa pulang. Sampai didepan rumahnya, seluruh isi perut benar – benar kekeluarkan. Maag oh maag.
Setelah makan malam, biasanya sekeluarga ngumpul di depan TV. Ibu Zia menjelaskan barang eloktronik itulah yang merupakan barang berharga mereka satu – satunya yang didapat dari memenangkan kuis pada saat kampanye Pilkada. Zia, ibunya, kakak ibunya dan aku mengambil posisi di dapur. Ngerumpi. Sambil mengunyah pinangnya, ibu Zia berkisah tentang keluarga besar ini. Saat dia mengucap nama Zia, matanya berbinar dan aku dapat menagkap bangga disana. Memang hanya Zia lah yang berhasil sekolah sampai setinggi ini. Kakak – kakak Zia yang lain putus sekolah. Dua adik kembarnya pun terpaksa putus sekolah. Tinggal Zia dan si Bungsu, Nilam. Miris. Aku tak pernah menyangka akan punya teman dengan kisah ini. Hampir kuteteskan air mata dengan semua kesusahan yang dikisahkan ibunya. Tapi kutahan. Dalam hati akupun turut berbangga dengan Zia.
Aku memperhatikan gerak – gerik ibunya. Mengusap kepala Zia lembut, membuka ikatan rambut kemudian menyisir dan mengikatnya lagi. Beliau mengisahkan tindak tanduk Zia kecil sambil menyuruh si bungsu mengobrak abrik lemari untuk mengambil beberapa lembar foto usang. Aku bisa melihat Zia kecil disana. Zia malu dibuka kartunya oleh ibunya. Mereka saling berebutan foto itu, yang berakhir dengan pelukan kecil ibunya dipundaknya. Dan ayahnya yang sedari tadi telah bergabung dengan kita tertawa melihat mereka. Aku meneteskan air mata. Namun, cepat kutepis dengan ujung jilbabku. Aku memimpikan hal itu seumur hidupku, tapi impian itu masih nyaman dalam ruangnya. Belum terjamah kasih itu. Dalam rumah sederhana ini, aku pun hanya menjadi penonton untuk orang lain yang bagi mereka mungkin hal yang biasa.
Mama, tak bisakah kau memelukku seperti itu.  Tak bisakah kau mengusap rambutku seperti itu. Ataukah kau menertawankanku kala aku berbuat konyol?. Aku rela tinggal di rumah sederhana ini agar mendapatkan itu semua. Ma, terlalu sulitkah permintaanku ini. Aku takkan meminta apa – apa lagi darimu.  Batinku menangis.
Aku tak mampu berada disini lama – lama dan menyaksikan semua itu, aku akan mati iri. Aku minta diri ingin beristirahat.

*********************************************
            “Haaaaaaaaaaaaa…………….” Kulepas semua yang bersarang di hati.
            What a wonderful place, menurut perkiraanku kita sedang berada di ketinggian 700an mdpl sekarang. Setelah hiking berjam –jam akhirnya kita sampai juga. Air terjun dengan tinggi sekitar 10 meter terlukis anggun jatuh diantara bebatuan. Oleh penduduk setempat, tempat ini dijuluki “Jembatan Alam”. Jika dilihat dari bentuknya, memang seperti jembatan yang terbentuk dari bebatuan besar yang menghubungkan dua sisi tebing. Sekilas nampak seperti air terjun itu jatuh kedalam goa, karena bentuk tebing melingkar bersatu dengan jembatan itu. Indah sekali disini.
            Sebenarnya tadi kita hampir tidak dibenarkan untuk mengunjungi tempat ini karena beberapa alasan. Selain karena gunungnya yang masih belum kondusif, hal klasik lagi, mitos. Menurut keyakinan penduduk disini, orang baru apalagi gadis dilarang pergi jika tak ada tetua yang ikut. Jembatan alam itu dipercaya merupakan salah satu sudut kampung makhluk halus yang berada disana. Katanya sudah beberapa orang yang hilang disana. Kita juga dilarang menggunakan bahasa Ternate, karena makhluk – makhluk itu membenci orang – orang dari kerajaan Ternate. Haddeeehh, mitos mematikan langkahku lagi. Tak akan kubiarkan kali ini. Salah mereka, siapa suruh mau mengiklankan tempat itu padaku. Dengan perundingan yang panjang dan lama, maka diputuskan, ditetapkan, haalllaaahh. Kita berhasil dijinkan dan aku harus logat full Ambon. Pasukan siap tempur ini terdiri dari Zia, Kakak lelakinya, aku dan dua orang pemuda kampung yang seusia denganku.
            Dan benar saja, seperti yang diceritakan padaku. Tempat ini indah sekali. Sayang, karena abu gunung, airnya jadi keruh. Tapi tak apalah, I’ll be right back. Kita hanya menghabiskan setengah jam disitu, karena kondisi cuaca yang semakin gelap dan posisi kita yang tolol berani mati ini mendekat kearah gunung yang sedang suka main sembul – sembulan. Suara erangan makhluk kerucut itu membuat ciut hingga harus cepat – cepat turun. Inilah olahraga extreme sesungguhnya.. botttooolll. ahahahahaha.
            Sampai dirumah dengan selamat, kita disuguhi pisang goreng. Lagi. Aku setuju tema jalan kali ini it’s all about pisang goreng. Kalau aku tidak salah, aku perkirakan selama seminggu disini, aku mungkin menghabiskan lebih dari lima tandan pisang. Sumpah. Jika aku pulang ke rumah nanti, liat saja kalau aku buka diatas meja ada pisang goreng. Bakal nangis sampai ketiduran aku-nya.

*****************************************************
            Jam dinding menunjukan pukul 02.00 pagi. Zia dan aku harus berpamitan pulang. Kita memutuskan pulang pagi itu. Aku sudah tak bisa lebih lama lagi dan karena penelitian Zia sudah berhasil dirampungkan. Sebelumnya kita menyempatkan diri untuk mengunjungi Pulau kosong yang berada di timur kampung ini. Pulau Kabhi – Kabhi namanya, mengingatkan aku pada film india Kabhi Kushi Kabhi Gam. Pulau indah berpasir putih bersih. Pulau  ini masih perawan karena tak berpenghuni. Tak jauh dari pulau ini ada dua pulau lainnya yang tersebar berdekatan yang indahnya pun saling menyaingi. Tobelo is wonderful. Surga – surga di kaki langit yang oleh penghuninya pun kadang tak disadari.
            Aku berterima kasih untuk segala kasih yang diberikan dkeluarga Zia padaku selama disini. Banyak juga pelajaran yang kupetik. Aku semakin bersyukur pada Sang Tuan yang memberi kehidupan yang layak padaku dan kusadari bahwa semua hadiah pasti ada harganya, tergantung kita menghargai.
            Sunrise pagi ini menemani perjalanan kita dalam speed boat menyeberangi lepas pantai Sofifi menuju Ternate.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar