Senin, 14 Mei 2012

Surat Kecil Tina untuk Amar bag II

Hari itu aku mendapat teman baru. Aku jarang berteman karena kondisiku yang tak memungkinkan untuk mendapatkan banyak teman. Bukan karena minder dengan keterbatasanku ini tapi terlebih pada jarangnya aku bepergian. Amar teman baruku, seperti itulah dia menyebut namanya. Dari percakapan singkat dengannya, aku bisa menangkap kalau dia lelaki yang easy going, smart, dan juga hangat. Dia anak bibi, pulang kampung untuk sekedar refreshing dari kuliahnya di Bandung. Bibi pernah curhat padaku bahwa dia hanya punya satu anak. Amar merupakan anak tunggalnya yang tak ayal sangat dikasihinya.
Setiap harinya dia sering datang menyapaku dan semut – semut merahku. Aku sangat merasa nyaman ketika berada disampingnya. Dia selalu menceritakan hal – hal lucu yang membuatku tertawa terbahak – terbahak. Menghabiskan waktu dengannya membuatku merasa spesial. Ada sesuatu yang bergejolak dari dalam dadaku. Aku tak tahu rasa apakah itu. Rasa ini baru pertama kurasa. Ketika dia tiada aku sangat merindukannya.
“Kenapa kamu, Tin. Blom tidur lagi ya?. Senyum – senyum sendiri pula.” Aku tak sadar diperhatikan sedari tadi oleh kakak yang terbangun.
“Ehmm.. gak kok kak. Emang aku gak boleh senyum ya.?” Jawabku.
“Hatimu lagi senang ya? Suka anaknya bibi ya?,” kakak menggoda
“Suka? Hmmm… mungkin., hehehehe…”
“Hmm.. dia tampan looh. Hidungnya mancung, tatap matanya tajam. Rambutnya hitam agak gondrong. Dari caranya memperlakukan kamu, kayaknya diaaaaa………” Kakak mendeskripsikan Amar seraya menggodaku melempar bantal ke arahku yang membuatku terkejut.
“Ah.. kakaaaaaak.. tapi kak…” kataku dengan nada serius, kakak mendengarkan dan kulanjutkan.
“Tapi dengan kekuranganku seperti ini. Apa pantas memiliki rasa ini kak? Aku tidak pantas kak. Apa mungkin jika aku menyukainya dan dia akan menyukaiku balik?”
Terdengar kakak menghembuskan nafas panjang, berdiri menghampiriku di jendela dan memelukku dari belakang. Dia membisikkan sesuatu ke telingaku.
“Adikku sayang.. siapapun yang hidup di dunia ini pantas untuk mencinta dan dicinta. Karena itu fitrahnya manusia. Mungkin kamu punya kekurangan tapi hatimu tetap ada dibalik dadamu. Beranilah mencinta, jika kamu kecewa.. khan masih ada kakak disini untukmu”.
Sudah kusebutkan sebelumnya kakakku memang punya cara sendiri untuk menguatkanku. Tapi kali ini aku masih ciut.
“Tapi kak, mana ada lelaki normal yang suka sama cewe buta kak? Paling dia hanya kasihan padaku. Ya udahlah toh mungkin dia juga tidak menyukaiku.”
“Hmmm….. khan blom diungkapkan kalo gak suka ma kamu khan sayang.. ”
“Iyah juga sih.. tapiiiii…..”
“Udah gak usah tapi – tapi lagi. Oiiyah.. umur kamu besok akan bertambah adikku. Apa yang kamu ingin di ulang tahunmu dari kakak?”
“Apa ya… ????  Jangan belikan aku pesawat lagi deh, belikan aku mobil aja kak.” Kataku bercanda serius.
“Hahahahahaha… bisa – bisa kakak mati kerja banting tulang baru bisa beli.”
“Hehehehehe… sejak ayah – ibu pergi meninggalkan kita, hadiah terindah Tuhan ya kakak. Aku tidak ingin yang lain kak. Yang penting kakak masih tetap ada menemaniku”
“Aku akan tetap ada adik, ada untukmu. Walaupun aku sudah tak ada disisimu lagi. Kakak akan tetap ada disini dan disini.” Katanya sembari menunjuk dada dan otakku.
“Truuuuusssss… adikku ini mau dibelikan apa? Yang pasti bukan pesawat atau mobil ya? Hehehe,” lanjut kakakku.
“Hmmm… bunga aster. Iyah bunga aster. Sudah beberapa lama, bunga aster unguku itu sudah lama tidak berbunga lagi kak. Aku ingin mencium harum bunga itu di kamar ini lagi. Belikan ya kak.” Kataku merengek.
“Bunga aster ya? Oke deh. Besok kakak akan belikan satu pot bunga aster ungu yang mekar – mekar menemanimu di pojokan titik – titikmu itu. Menggantikan kakak kalo kakak sedang pergi.”
Kakak bergegas menuntun langkahku menuju tempat tidur, mengecup keningku dan membaringkan tubuhnya disampingku.

*****************************
11. 45 pagi.
            Bibi membawakanku jus tomat kesukaanku. Dari mulutnya bibi pagi itu, aku tahu yang sebenarnya kalau Amar, cowok yang kutaksir itu telah punya seorang kekasih. Bibi memang tak tahu perasaan yang kusimpan pada anak tunggalnya itu. Lagipula biarpun bibi selama ini baik padaku, belum tentu bahkan tak mungkin dia mengijikan anak satu – satunya itu untuk berpacaran dengan gadis buta sepertiku. Pacar Amar seorang gadis kota yang cantik dan muslimah. Begitulah bibi berulang kali mendeskripsikan gadis anaknya itu dengan nada bangga.
            Hatiku begitu terluka dan sedih. Tapi tak mungkin kutunjukkan perasaanku pada bibi. Aku hanya tersenyum dan menyoraki bibi yang berapi – api.
            “Amar menunjukkan foto pacarya.. cantiknyaaaaa… tak lama lagi mereka akan mengunjungi bibi, bibi senang sekali,” cerita bibi
            “Benarkah bi,? aku juga penasaran dengan pacarnya si gondrong. Kalau mereka datang, jangan lupa dikenalkan kepada Tina ya.” Jawabku menahan sakit dibalik dada.
            “Pasti neng, bibi kenalin ya. Pokoknya cantik sekali, kata Amar dia gadis yang sangat baik dan pintar masak. Duuh gusti semoga dia jodoh anakku.”
            Kakak, dimana kamu? Aku ingin menangis di pangkuanmu, kak. Sudah kubilang aku tak pantas mencintai kak. Hatiku sakit kak, tolong aku kak. Aku sudah bilang.. aku sudah bilang kak. Aku sudah bilang. Tangisku dalam hati. Kurasakan mataku mulai panas namun aku berusaha kuat dengan kata – kata kakak yang selalu ada untukku.
            Samar – samar aku mendengar celotehan bibi yang semakin panjang. Aku tak fokus lagi. Satu dua kata saja yang dapat kutangkap. Jus tomatku pun tanpa sengaja kujatuhkan hingga pecah gelasnya. Bibi bergegas membereskan semuanya dan aku minta maaf telah merepotkan.
            Tiba – tiba ada suara ketukan keras di pintu. Ketukan itu berulang -  ulang seperti ada yang terburu – buru. Bibi sedang didapur membuang sisa pecahan gelas, jadi aku berjalan meraba langkah menuju pintu berniat membukanya. Kuraba ganggang pintu dan membukanya.
            “Maaf apa benar dengan saudari Tina?”, sebuah suara menyahut
            “Iyah, dengan saya sendiri”, jawabku.
            Yang mengetuk pintu kayaknya ada dua orang karena aku mendengar mereka berdua agak berbisik – bisik. Sedikit kutangkap mereka berdua saling bertanya apakah aku buta.
            “Maaf dengan siapa ya? Dan perlu apa ya?”, tanyaku kembali.
            “Oiyah, kami dari kepolisian. Tadi pagi sekitar pukul 11 terjadi kecelakaan mobil, mbak. Seorang wanita muda tertabrak mobil truk ketika menyeberangi jalan di depan toko bunga. Wanita yang teridentifikasi bernama Tika Darmawan itu dari KTP nya dia tinggal disini dan dari dalam dompetnya ada fotonya dengan anda jadi kami datang kesini ingin menginfokan. Korban sekarang berada di rumah sakit Darma Ibu.”
            Aku rasakan tiba – tiba dunia berhenti, kakiku beku tak dapat kugerakkan. Aku diam. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bingung harus bagaimana. Kepalaku rasanya sangat pening. Tuhan. Setelah itu aku tak tahu lagi. Belum pernah aku merasa berada di ruang segelap ini sebelumnya.
            Entah berapa lama aku tertidur. Aku tak tahu. Dan ketika aku sadar kembali. Disana ada bibi dan Amar yang menemaniku. Polisi – polisi tadi tampaknya telah pergi. Aku tak sanggup menangis. Kakakku telah pergi, pergi untuk selamanya. Dia takkan ada disini menemaniku lagi. Dia tak ada untuk meyakinkan aku bahwa semuanya baik – baik saja. Dia takkan ada disini untuk kukeluhkan masalah amar. Aku menangis sejadi – jadinya. Aku menangis dan menangis hingga aku kelelahan. Amar menghampiriku menyediakan bahunya untuk bersandar. Kutepis dia. Pergilah dariku, pergi sejauh mungkin bersama semuanya. Aku hanya butuh kakakku.
            Amar mengantarku dengan motor kemudian menuju rumah sakit yang disebutkan polisi – polisi itu. Sepanjang perjalanan mata butaku tak pernah berhenti mengeluarkan air mata. Air mata ini tak mau berhenti hingga sampai di rumah sakit tersebut. Jika saja aku tak buta maka aku akan berlari melepas tangan Amar yang sedang menuntunku masuk rumah sakit itu. Berjalan memasuki kamar jenazah aku masih terisak. Bau anyir darah tercium dari luar ruangan, kuremas kuat tangan Amar. Aku terhenti di depan pintu. Aku tak siap menemukan kakakku diam tak bergerak tanpa candaan dan cubitan halus yang selalu mendarat dipipiku.
            Aku kumpulkan seribu keberanian demi bertemu dengan kakakku tersayang. Aku lepas genggamanku dari lengan Amar. Kulangkah meraba ke arah kakakku. Dia diam tak bergerak. Sekujur tubuhnya begitu dingin. Kakakku dengan pelukan hangatnya kali ini hanya terbaring dingin.
            “Kakak, banguun.. Kak, banguuuunnn… Kak, jangan tinggalin Tina sendirian. Kakak jahat. Siapa lagi yang menuntun Tina, Kak. Kakak mata Tina, Tina akan benar – benar gelap kalo gak ada kakak.” Tangisku mengguncang – guncang tubuhnya yang kaku.
            “Kakak gak boleh tinggalin Tina, Kak…. Kakak.. Kakaaaaak…. ,” tangisku berulang – ulang. Aku tak mampu mengendalikan tangisku. Amar menghampiriku dan menarikku untuk meninggalkan ruangan itu.
            “Aku gak mau.. gak mau.. gak maauuu.. aku mau sama kakak. Aku mau sama kakak.” Rengekku.
            “Sudahlah Tin, kita tinggalkan sebentar aja biar semakin cepat kita membawanya pulang”
            “Gak mau, Mar.. gak mau..” tuntutku tapi Amar terus memaksaku keluar dari ruangan itu.

***********************************
            Sudah beberapa hari Kakak pergi. Bau badannya masih melekat di baju dan perabotan rumah ini. Aku enggan memindahkan segala barang – barang yang ditinggalkan kakakku. Baju kerja kakakku masih tergelantung di belakang pintu itu. Setiap aku tidur aku selalu memeluk bantal nya erat – erat agar dia selalu berada dekat denganku. Tak kusangka kecupannya waktu kita akan tidur merupakan kecupannya yang terakhir. Aku sering mendengar ada tapak kaki di dalam kamar ini, dan aku tahu kakakku masih ada disini menjagaku. Harum aster ungu yang dibelinya sebelum dia pergi untuk selamanya aku taruh di pinggir jendela setelah kucuci bekas darah yang tertinggal. Ada lima bunga aster ungu yang mekar di pot itu. Setiap pagi aku mengecup bunga itu seperti layaknya kakakku sering mengecupku.
            Bibi dan Amar labih sering menemaniku sekedar menemaniku dalam diam. Aku terluka karena cintaku pada Amar dan tak bisa aku ungkapkan padanya apalagi pada bibi. Orang satu – satunya tempat kuluapkan rasa tak disini menemaniku lagi. Aku dengar dari bibi Amar akan balik ke Bandung karena liburannya sudah berakhir.
            “Kamu sudah mau balik ke Bandung ya?” tanyaku pagi itu ketika bibi menyuruh Amar membawakanku sarapan.
            “Iyah Tin. Kamu gak apa – apa khan aku tinggal. Gak boleh nakal ya. Aku udah anggap kamu seperti adik aku sendiri. Aku gak mau apa – apa terjadi denganmu.” Katanya mengusap kepalaku.
            Srrrrrrrrr……. Darahku berdesir.
            “hehehe… anterin aku ke pantai ya sebentar sore, Mar. Mau yah?”
            “Mau refreshing ya.. Oke deh, ntar kita berdua jalan – jalan sebelum aku balik ke Bandung. ”
            Sorenya, aku telah mandi yang bersih dan wangi. Kukenakan baju kakakku yang ternyata pas ditubuhku. Kubawa tas pinggang kecil bersamaku. Kurapikan tempat tidurku yang mungkin barantakan. Kusiram bunga aster unguku dengan sedikit air.
            “Cantik sekali, Tin.” Sapa bibi yang sedang mengepel lantai.
            “Makasih bi, bibi nanti tolong siramin bunga asterku di kamar ya.”
            Bibi mungkin mengangguk karena tak ada suara. Kadang dia lupa sedang berbicara dengan orang buta. Sambil memanggil keras – keras anaknya itu. Tak lama Amar pun datang sambil sedikit berlari.
            “Siap bos?” tanyanya sigap agak bercanda.
            “Hmmmm… ayo berangkat.” Jawabku datar.
            Kita meluncur menggunakan motor King Klasik – nya. Perjalanan dari rumah ke pantai yang kami tuju sekitar 1 jam lebih. Aku sangat menikmati perjalanan ini. Damainya hati mengetahui kamu berada dengan orang kamu cinta walau dia tidak tahu perasaanmu. Berada dekat dengannya telah cukup bagiku. Angin hari ini seakan bertiup hanya untukku. Rambutku terurai mengikuti arah angin. Dan setelah beberapa lama.
            “Kita dah nyampe, Tin,” sahut Amar.
            “Oh iyah…,” aku turun perlahan dan Amar membantuku untuk Turun.
            “Hmm… pasir putih. Ombak yang tenang. Asik untuk berenang.”
            “Jam berapa ini, Mar?”
            “Jam lima sore. Emang kenapa?”
            “Terima kasih ya, sudah mengantarkan aku sampai disini. Kamu boleh pulang”
            “Apa? Tidak, aku mau disini bersamamu. Sebelum balik aku ingin menikmati hariku ini bersama kamu, Tin.”
            “Tidak usah, Mar. Tolong. Aku ingin sendiri. Aku ingin berfikir.”
            “Tapi bagaimana kamu pulang, Tin? Berbahaya kamu disini sendirian.”
            “Gak apa – apa kok, aku bisa jaga diri. Aku ingin disini sampai malam. Lagipula kau bisa menelponku untuk menjemputku. Benar khan?” aku tersenyum lebar kepadanya. Hatinya luluh, dia berpamitan. Dia tidak pulang melainkan hanya menjauh sedikit dari pantai ini dan berjanji akan membawaku pulang lagi.
            Brrrrrrrrmmmm.... brmmmmmmmm…
            Kubuka sepatuku, aku berjalan menyusuri pantai. Merasakan pasir pantai membelai kakikku. Aku tersandung dan kemudian bangkit dan berjalan lagi. Aku menunduk dan meraba – raba pasir itu apakah aman untuk diduduki. Angin pantai berhembus pelan, suara elang menukik pulang ke peraduan dn ombak yang berharmoni membentuk nada indah ketika menghantam pasir putih. Disinilah biasanya aku dan kakak menghabiskan waktu menghilangkan penat kakak terhadap pekerjaannya. Ku raih sesuatu dari dalam tas kecilku. Ada pensil dan buku. Kugoreskan sedikit tulisan. Walau aku tak tahu apakah bagus tulisanku, miring ataukan naik turun. Yang aku ingikan yaitu menulis sesuatu untuk Amar, sebelum dia pergi meninggalkanku.
            Dear Amar..
Senang mengenalmu. Aku tak pernah memiliki teman dekat selain kakakku. Aku tak tahu pantas atau tidak untuk jatuh cinta padamu. Kakakku bilang siapapun pantas mencinta dan dicinta. Tapi aku benar – benar tak merasa pantas. Aku ingin jujur bahwa aku sayang ma kamu. Aku minta maaf telah mencintaimu. Selama hidup ini aku sering terjatuh dan kakakku yang mengangkatku dalam kasihnya. Aku pikir kamu akan seperti kakakku, ternyata kau punya seseorang istimewa, yang pasti tak buta dan tak lama lagi kau akan pergi… hehehehe… aku sendirian. Sayapku patah dan tak mampu terbang. Aku berusaha merangkak tapi aku tak mampu. Aku terlalu takut untuk berjalan sendiri, Mar. Maafkan aku mencintaimu. Sampaikan salamku pada gadismu dan pada bibi. Tolong bilang bibi  untuk merawat aster unguku ya.. sebentar lagi aku akan bertemu kakak. Tak lama lagi indahnya pasir putih dapat kulihat dengan mataku sendiri.
Oiyyaaaa……..bilang bibi juga, semut – semut merahku jangan lupa dikasih makan ya.. Terima kasih dan maaf, Mar.

Wassalam…..

            Tak kusangka hari telah malam. Kudengar suara jangkrik bersahutan. Lagu Katy Perry mengalun sedari tadi tandanya ada paggilan masuk tak kuacuhkan. Kukeluarkan soft drink beserta tiga strip obat tidur yang kuambil dari kotak obat tadi. Kukeluarkan satu persatu obat itu dan mengumpulkannya jadi satu. Kubuka tutup soft drink itu. Kuteguk seluruh obat itu dan kemudian meneguk soft drinks sebanyak – banyaknya. Kaleng soft drink dan airnya terurai di pasir putih itu. Aku terbaring. Dadaku sesak serasa mau meledak. Kepalaku serasa mau pecah. Kutengadah langit. Ada cahaya random.  
            “Itukah bintang kakak? Mengapa indahnya tak sama dengan yang kau gambarkan,” kataku lemah. Kakakku ada disana. Aku merasakan tubuhku lumpuh. Antara ada dan tiada kurasakan ada gerakan yang mendekat. Aku rasa dipangku. Kakak, itu kaukah? Kakak, akhirnya kita bertemu lagi. Gumamku tak jelas. Kudengar suara Amar dari jauh dan jauh. Jauh sekali. Aku merasa kedinginan. Ooh ternyata Amar, selamat tinggal Amarku. Selamat tinggal. Aku akan pergi menemui kakakku yang mencintaiku.
            Gelap. Gelap.

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar